Sakato.co.id – Jagat maya tengah dihebohkan oleh curahan hati memilukan seorang ibu bernama Nuri Khairma. Melalui unggahan yang viral di media sosial, Nuri mengungkap dugaan kelalaian medis di RSUP Dr. M. Djamil Padang yang menyebabkan putra kecilnya, Alceo Hanan Flantika, mengembuskan napas terakhir.
Nuri menuntut transparansi dan keadilan atas apa yang ia sebut sebagai rangkaian ketidaksiapan serta pelanggaran prosedur standar operasional (SOP) oleh pihak rumah sakit rujukan utama di Sumatera bagian tengah tersebut.
Dalam mediasi kedua yang digelar enam hari pasca kejadian, Nuri membeberkan bahwa pihak rumah sakit, termasuk dokter penanggung jawab, dokter PPDS, serta perawat IGD dan HCU bedah, telah mengakui adanya pelanggaran SOP.
Namun, Nuri merasa perlakuan tersebut tidak cukup. Ia menyayangkan sikap rumah sakit yang terkesan menutup-nutupi pengakuan tersebut dari publik.
“Video pernyataan dari masing-masing dokter disebut masih disimpan oleh pihak humas rumah sakit dan tidak disebarluaskan,” ungkap Nuri dalam unggahannya.
Hingga kini, ia terus mempertanyakan ketegasan sanksi bagi tenaga medis yang terlibat. Bagi Nuri, nyawa anaknya tidak bisa dibayar hanya dengan permohonan maaf di balik pintu tertutup.
Nuri memaparkan beberapa poin krusial yang dianggapnya sebagai kelalaian fatal:
– Ketidaksesuaian Ruang Perawatan: Pascaoperasi, Alceo seharusnya dirujuk ke ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit) infeksius. Namun, ia justru ditempatkan di bangsal HCU Bedah.
– Risiko Infeksi Tinggi: Nuri menyebut anaknya ditempatkan di ruangan terbuka yang bercampur dengan pasien dewasa. Padahal, kondisi pascaoperasi Alceo sangat rentan terhadap infeksi lingkungan.
– Penolakan Fasilitas Mandiri: Pihak keluarga sempat meminta fasilitas VIP atau perawat khusus demi keselamatan Alceo, namun ditolak dengan alasan HCU Bedah adalah tempat pemantauan terbaik.
– Lambatnya Respons Medis: Saat kondisi Alceo memburuk pada dini hari, keluarga mengaku kesulitan mendapat bantuan maksimal. Keluhan keluarga disebut-sebut hanya dianggap sebagai “keluhan biasa” oleh petugas yang berjaga.
Unggahan Nuri kini menjadi bola salju di media sosial. Netizen mendesak adanya investigasi menyeluruh terhadap manajemen RSUP Dr. M. Djamil Padang. Kasus ini kembali memicu perdebatan lama mengenai kualitas pelayanan rumah sakit pemerintah dan peran dokter residen (PPDS) dalam menangani pasien kritis.
Hingga berita ini diturunkan, publik masih menunggu pernyataan resmi dan langkah konkret dari pihak manajemen RSUP Dr. M. Djamil terkait tuntutan sanksi dan perbaikan prosedur yang disuarakan oleh keluarga korban.
(*)









Komentar