Sakato.co.id – Kepulangan jemaah haji ke Tanah Air tidak serta-merta berakhir saat pesawat Garuda Indonesia mendarat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Ada pemeriksaan yang mesti dilalui di bandara dan asrama haji.
Di balik suasana haru penyambutan dan pertemuan kembali dengan keluarga, terdapat serangkaian pemeriksaan kesehatan yang harus dilalui untuk memastikan seluruh jemaah dalam kondisi aman sebelum kembali ke daerah masing-masing.
Untuk itu, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Padang bersama Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) terus melakukan pemantauan terhadap kondisi kesehatan jemaah sejak tiba di bandara hingga berada di Asrama Haji Debarkasi Padang.
Dokter Klinik Kesehatan Debarkasi Padang, Resnita, menjelaskan pemantauan dimulai sejak pesawat mendarat. Tim BKK langsung melakukan serah terima kesehatan dengan dokter kloter di pintu pesawat guna memastikan tidak ada jemaah yang memerlukan penanganan darurat.
“Saat pesawat mendarat, tim BKK langsung melakukan serah terima dengan dokter kloter di pintu pesawat. Dari situ kami mengetahui apakah ada jemaah yang memerlukan penanganan segera atau ada kondisi kesehatan tertentu yang harus dipantau lebih lanjut,” kata Resnita, Sabtu (13/6/2026) saat observasi jemaah.
Selain itu, seluruh jemaah yang tiba di Asrama Haji juga menjalani pemantauan melalui thermal scanner untuk mendeteksi suhu tubuh dan mengidentifikasi kemungkinan adanya gangguan kesehatan yang memerlukan perhatian lebih lanjut.
“Setiap jemaah yang tiba juga dipantau melalui thermal scanner. Tujuannya untuk melihat kondisi suhu tubuh dan mendeteksi apabila ada indikasi gangguan kesehatan yang memerlukan tindak lanjut,” ujarnya.
Pada kedatangan Kloter 09 Debarkasi Padang, tim kesehatan melakukan observasi terhadap empat jemaah yang memerlukan pemantauan khusus sebelum diperbolehkan pulang.
Kloter 09 sendiri membawa 390 jemaah dan petugas yang berasal dari Kota Solok, Kabupaten Solok, Solok Selatan, Padang Panjang, Payakumbuh, dan Kota Padang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 95 orang merupakan jemaah lanjut usia berusia 65 tahun ke atas.
Dari ratusan jemaah yang tiba dalam kondisi baik tersebut, empat orang harus menjalani observasi lanjutan di Klinik Kesehatan Debarkasi sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah masing-masing.
Jemaah pertama, Yuliar (84) asal Kabupaten Solok, mengeluhkan pusing saat tiba di BIM. Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar gula darah yang tinggi.
Selain itu, yang bersangkutan juga memiliki riwayat Hernia Nucleus Pulposus (HNP) atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai saraf kejepit, sehingga mengalami kesulitan berjalan dan harus dibawa menggunakan ambulans dari bandara menuju Asrama Haji.
Jemaah kedua, Sawinar (81), juga menjalani observasi setelah hasil pemeriksaan menunjukkan kadar gula darah yang tinggi. Ia mengeluhkan nyeri yang menjalar dari pinggang hingga ke kaki.
Sementara itu, Martini (71) mendapatkan pemantauan karena mengalami hipokalemia, yakni kondisi ketika kadar kalium dalam darah berada di bawah batas normal sehingga berpotensi menimbulkan gangguan pada fungsi tubuh.
Sedangkan Andriana (67) mengalami sesak napas sesaat setelah tiba di Asrama Haji. Petugas kemudian membawa yang bersangkutan menggunakan kursi roda dari aula menuju Klinik Kesehatan Debarkasi untuk mendapatkan penanganan dan observasi lebih lanjut.
“Pada Kloter 09 ada empat jemaah yang kami observasi di klinik kesehatan debarkasi. Namun setelah dilakukan pemeriksaan dan pemantauan, alhamdulillah seluruhnya dalam kondisi stabil dan dapat melanjutkan perjalanan pulang bersama rombongan,” jelas Resnita.
Menurutnya, observasi yang dilakukan bukan semata-mata karena kondisi darurat, melainkan sebagai langkah antisipasi untuk memastikan jemaah dapat melanjutkan perjalanan pulang dengan aman.
“Kami ingin memastikan seluruh jemaah yang meninggalkan Asrama Haji benar-benar dalam kondisi yang terpantau dengan baik. Jika ada keluhan kesehatan, langsung kami observasi dan tindak lanjuti sebelum mereka kembali ke daerah,” katanya.
Hingga kedatangan Kloter 09, sebanyak 3.515 jemaah dan petugas Debarkasi Padang telah kembali ke Tanah Air. Seluruh jemaah yang tiba tetap menjalani pemantauan kesehatan sebagai bagian dari prosedur debarkasi sebelum dipulangkan ke daerah masing-masing.
PPIH Debarkasi Padang bersama Balai Kekarantinaan Kesehatan memastikan layanan kesehatan tetap disiagakan selama proses pemulangan jemaah berlangsung, sehingga setiap keluhan kesehatan yang muncul dapat segera ditangani sebelum jemaah melanjutkan perjalanan pulang ke kampung halaman.
“Observasi bukan berarti jemaah dalam kondisi gawat. Ini merupakan bagian dari prosedur untuk memastikan jemaah aman melanjutkan perjalanan ke daerah asal. Apalagi sebagian besar yang kami tangani jemaah lanjut usia yang memerlukan perhatian lebih,” tutup Resnita.
(*)





Komentar