METI Ajak Anak Muda Pimpin Transisi Energi di Daerah

Sakato.co.id – Masa depan energi Indonesia kini berada di pundak generasi muda. Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) secara resmi memperkenalkan wadah METI Energi Muda dalam diskusi strategis bertajuk “Bincang Energi: Peran Pemuda dalam Transisi Energi di Daerah” yang digelar di Universitas Negeri Padang (UNP), Jumat (6/2/2026).

Langkah ini merupakan bagian dari misi besar mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060 dan komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam mempensiunkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) secara bertahap.

Ketua METI Sumbar, Firman Hidayat, mengungkapkan fakta mencengangkan: Sumatera Barat menyimpan 52% dari total potensi energi terbarukan di Indonesia. Dengan kekayaan alam yang melimpah, Sumbar diproyeksikan mampu menarik investasi hijau senilai Rp28,6 triliun.

Berikut adalah rincian energi hijau di Sumatera Barat:

Panas Bumi: 1,7 GW

Tenaga Air: 1,1 GW

Mini & Mikrohidro: 1,35 GW

Lainnya: Energi surya, biomasa, biogas, hingga tenaga angin.

“Besarnya potensi ini adalah peluang investasi fantastis. METI Sumbar berkomitmen membangun kapasitas daerah, mulai dari akses keuangan hingga pengembangan SDM lokal,” tegas Firman.

Di bawah kepemimpinan Ketua Umum Zulfan Zahar dan Hashim Djojohadikusumo sebagai Ketua Dewan Penasihat, METI telah menyusun peta jalan konkret untuk mempercepat transisi energi berkeadilan, di antaranya:

Akses Pendanaan (AFJET): Memfasilitasi dialog antara pengembang dan lembaga keuangan melalui platform inovatif.

Elektrifikasi Desa: Target 10 lokasi “Desa Mandiri Energi” hingga 2028, termasuk ambisi menjadikan Nusa Penida 100% bertenaga hijau.

Peta Jalan 100GW: Menyusun panduan nasional pengembangan energi terbarukan sebesar 100 Gigawatt.

Penguatan Regulasi: Mengawal RUU Energi Baru dan Energi Terbarukan (EBET) agar transisi berjalan adil.

Ketua Umum METI, Zulfan Zahar menekankan bahwa pensiun dini PLTU bukan perkara mudah karena membutuhkan biaya besar dan strategi matang agar pasokan listrik masyarakat tidak terganggu. Di sinilah peran “Energi Muda” dibutuhkan untuk menciptakan inovasi dan lapangan kerja baru (Green Jobs).

“Sektor energi terbarukan harus berada di tangan penerus bangsa. Kami mengundang anak muda yang agresif dan inovatif untuk menjadi pemimpin dan pelaku, bukan sekadar pengikut atau pengamat,” pungkas Zulfan.

METI yang berdiri sejak 1999 kini beranggotakan 1.800 praktisi, akademisi, dan pengusaha. Di bawah kepengurusan 2025-2028 yang dipimpin Zulfan Zahar dan Hashim Djojohadikusumo sebagai Ketua Dewan Penasihat, METI berkomitmen menjadi hub bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat implementasi energi hijau di Indonesia.

(*)

Komentar