Kecerdasan Buatan dan Nasionalisme Indonesia

Sakato.co.id – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligent (AI) merupakan dunia masa depan kita semua. Saat ini, kita sudah bermigrasi, memasuki wilayah dunia baru tersebut. Dan meskipun dunia masa depan itu masih diselimuti kabut ambiguitas, kita dapat menerawang berbagai kemungkinan yang akan terjadi.

Di satu sisi, kecerdasan buatan dapat membantu manusia menyelesaikan beragam persoalan hidup. Banyak pekerjaan akan menjadi efisien dengan AI. Kecerdasan buatan juga dapat mendukung kemajuan ekonomi dan peningkatan layanan publik. Banyak negara, termasuk Indonesia, telah menerapkan kecerdasan buatan, dan ia terbukti mampu membantu menyelesaikan beragam masalah di masyarakat secara lebih efisien.

banner 1080x788

Dalam kaitannya dengan nasionalisme, AI juga memiliki potensi untuk menguatkan nasionalisme masyarakat. Kecerdasan buatan dapat memfasilitasi masyarakat untuk belajar berbagai hal tentang bangsanya. Masyarakat dapat dengan mudah mendapat informasi yang menguatkan rasa kebangsaan mereka.

Misalnya, orang dapat dengan mudah belajar sejarah, makna lambang dan simbol negara, kekayaan alam atau budaya Indonesia, tokoh nasional, juga berbagai peristiwa nasional yang sedang terjadi.

Namun demikian, kehadiran AI juga dapat menjadi ancaman bagi keberadaan dan keberlanjutan bangsa. Kekuatan yang sangat luar biasa dari kecerdasan buatan dapat “menyihir” bangsa Indonesia sehingga bersalin rupa. AI dapat mengubah secara ekstrem pikiran, perasaan, perilaku, kebiasaan, termasuk tatanan sosial dan budaya bangsa Indonesia.

Salah satu contohnya adalah sistem algoritma yang diterapkan dalam internet dan media sosial. Sistem algoritma ini dapat dengan mudah mengubah persepsi masyarakat tentang makna menjadi Indonesia. Sistem tersebut mampu menangkap dan mengurung individu dalam gelembung informasi tertentu. Dengan kata lain, mereka hanya terpapar oleh sudut pandang yang sempit tentang bangsa ini berdasarkan preferensi pencarian mereka di internet sebelumnya.

Dalam kungkungan gelembung informasi tersebut, individu dapat disuguhkan dengan informasi tertentu tentang Indonesia secara intensif, hingga pada akhirnya mereka mungkin meyakini bahwa Indonesia hanya sebatas informasi yang diberikan oleh algoritma tersebut. Oleh karena itu, bukannya memperoleh pemahaman menyeluruh tentang keberadaan bangsa, mereka malah terperangkap dalam pandangan yang terbatas, melihat Indonesia hanya dari satu sisi tertentu.

Bayangkan jika setiap individu mengembangkan imajinasi yang berbeda-beda dan bahkan saling bertentangan tentang Indonesia. Rasa persatuan kita sebagai bangsa bisa terkikis. Kita mungkin kesulitan menemukan titik kesamaan dengan sesama warga negara yang pada akhirnya meruntuhkan konsep kita sebagai satu bangsa yang bersatu. Memori kolektif yang terpecah, tanpa keselarasan tentang identitas bangsa, dapat menjadi akar dari perpecahan sosial.

Itu hanya satu contoh bagaimana kecerdasan buatan membentuk perilaku kebangsaan kita. Sementara AI akan meresap ke hampir semua aspek kehidupan masyarakat. AI tidak hanya hadir di ruang-ruang publik, tetapi juga menyusup ke dalam kehidupan pribadi setiap individu. Jika gerakannya dikendalikan oleh kekuatan tertentu, keberadaannya bisa menjadi sangat berbahaya bagi kita.

Terkait itu, salah satu tantangan serius yang dihadapi Indonesia dari keberadaan AI ini adalah kita bukan bangsa yang berdaulat di bidang AI. Sejauh ini, bangsa Indonesia masih menjadi konsumen dan belum menjadi produsen dari berbagai jenis teknologi AI. Nilai investasi Indonesia untuk pengembangan AI juga masih tergolong minim. Dari situ kita melihat bahwa sejauh ini Indonesia kurang memiliki potensi menjadi salah satu negara yang menjadi pemain utama di bidang AI di masa depan.

Posisi seperti itu tidak menguntungkan, dan analogi AI sebagai senjata memperkuat alasan tersebut. Karena kita tidak memiliki kedaulatan penuh di bidang AI, kita kehilangan kendali terhadap teknologi ini. Sementara pihak atau negara yang memiliki kendali dapat mengarahkan AI sesuai kepentingan mereka. Bahkan, kita mungkin tidak memiliki pertahanan yang cukup ketika mereka menggunakan AI untuk tindakan yang dapat merugikan Indonesia.

Dalam menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), Indonesia perlu merumuskan kebijakan nasional yang strategis. Kebijakan ini harus merangkul berbagai aspek, seperti riset dan pengembangan, serta mempertimbangkan dampak penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan keunggulan Indonesia di bidang AI, tetapi juga untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil oleh pemangku kepentingan didasarkan pada data, bukan sekadar rasionalitas semata.

Selain itu, diperlukan kebijakan yang mengatur penggunaan teknologi AI dan melindungi data. Langkah ini tidak hanya untuk melindungi bangsa dari potensi dampak buruk penggunaan AI, tetapi juga untuk mencegah upaya indoktrinasi ideologi dari pihak luar yang dapat melemahkan nasionalisme Indonesia.

Sebagai poin ketiga, kebijakan anggaran perlu ditekankan agar mendukung perkembangan AI. Pengalokasian anggaran ini menjadi krusial karena merupakan pendorong utama kelancaran program-program terkait AI. Perlu disiapkan anggaran untuk penelitian dan pengembangan AI, sosialisasi dan adopsi AI oleh masyarakat, serta untuk mencegah berbagai ancaman yang bersumber dari AI.

Melalui kebijakan strategis di bidang Kecerdasan Buatan (AI) tersebut Indonesia mungkin dapat menjadi bangsa yang unggul di bidang AI. Langkah-langkah ini tak hanya meningkatkan keamanan dan melindungi data, tetapi juga mencegah indoktrinasi ideologi asing yang dapat merongrong semangat nasionalisme. Selain itu, masyarakat juga bisa merasa aman, nyaman, dan terhubung dengan narasi kebangsaan yang memupuk rasa cinta dan kebanggaan mereka terhadap Indonesia.

Penulis: Sartana, M.A. ( Dosen Psikologi Sosial di Departemen Psikologi FK Universitas Andalas) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *