Sakato.co.id – Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mencatatkan performa ekonomi yang positif pada medio Februari 2026. Berdasarkan data terbaru, realisasi inflasi Sumbar tercatat sebesar 0,3% (mtm), angka yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan realisasi inflasi nasional yang mencapai 0,68% (mtm).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sumatera Barat, M. Abdul Majid Ikram, mengungkapkan bahwa terkendalinya angka inflasi ini tidak lepas dari keberhasilan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam meredam gejolak harga pangan di pasar.
Keberhasilan Sumbar menekan laju inflasi didorong oleh deflasi pada sejumlah komoditas pokok seperti cabai rawit, bawang merah, telur ayam ras, dan beras.
“Penurunan harga komoditas tersebut ditopang oleh masifnya intervensi TPID bersama mitra terkait, baik melalui operasi pasar maupun pelaksanaan Gerakan Pasar Murah (GPM) yang menyasar langsung masyarakat,” ujar M. Abdul Majid Ikram dalam keterangannya, Selasa (3/3/2026).
Meski demikian, secara bulanan, inflasi Februari ini naik dibanding Januari yang sempat mengalami deflasi dalam. Kenaikan ini dipicu oleh:
– Momentum Ramadhan: Peningkatan permintaan menjelang hari besar keagamaan.
– Faktor Cuaca: Penurunan produksi cabai merah akibat tingginya curah hujan di daerah sentra (Jawa dan Lombok), yang memicu inflasi cabai merah sebesar 14,54% (mtm).
Emas & Tarif PAM: Berlanjutnya kenaikan harga emas perhiasan serta berakhirnya program diskon tarif PAM.
Secara spasial, dinamika harga di tingkat kabupaten/kota menunjukkan hasil beragam:
– Inflasi Tertinggi: Kabupaten Dharmasraya (0,85% mtm).
– Inflasi Terendah: Kota Padang (0,32% mtm).
– Deflasi: Kabupaten Pasaman Barat masih melanjutkan tren penurunan harga sebesar 0,13% (mtm).
Melihat tren ke depan, Bank Indonesia optimis inflasi tahunan Sumbar akan menurun menuju rentang target 2,5%±1%. Optimisme ini didukung oleh masuknya masa panen serta perbaikan infrastruktur distribusi jalan yang mulai rampung.
Namun, BI tetap mewaspadai sejumlah risiko seperti tingginya permintaan pangan saat Idul Fitri, fluktuasi harga emas global, dan tekanan nilai tukar Rupiah akibat tensi geopolitik.
Enam Strategi Penguatan TPID Sumbar:
1. Akselerasi Infrastruktur: Dialog intensif dengan pusat (Bappenas/PUPR) untuk rekonstruksi pascabencana.
2. Rapat Teknis: Koordinasi persiapan stabilitas harga jelang Idul Fitri 2026.
3. Intensifikasi GPM: Operasi pasar murah secara berkelanjutan.
4. Kerja Sama Antar Daerah (KAD): Pemenuhan pasokan dari luar daerah berbasis neraca pangan.
5. Hilirisasi Pertanian: Perluasan program Sekolah Lapang DAUN untuk meningkatkan produktivitas.
6. Komunikasi Kebijakan: Kampanye diversifikasi konsumsi beras untuk menjaga ekspektasi masyarakat.
“Sinergi pengendalian inflasi akan terus kami optimalkan agar daya beli masyarakat Sumatera Barat tetap terjaga, terutama dalam menghadapi periode krusial Ramadhan dan Idul Fitri,” tutup Majid Ikram.
(*)








Komentar