Sakato.co.id – Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada tahun 2026 akan mengalami perlambatan. Faktor cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi yang merusak sentra produksi pangan menjadi tantangan utama yang harus diwaspadai pemerintah daerah dan pelaku ekonomi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat, Mohamad Abdul Madjid Ikram, mengungkapkan bahwa target pertumbuhan ekonomi Sumbar pada 2026 diperkirakan berada di angka maksimal 4%, dengan rentang bawah mencapai 3,3%. Angka ini menunjukkan tren penurunan dibandingkan target tahun 2025 yang dipatok pada 4,9%.
Saat ini, inflasi di Sumatera Barat tercatat sebagai salah satu yang tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 5,15%, berada tepat di bawah Provinsi Aceh. Madjid menjelaskan ada dua faktor utama di balik tingginya angka ini:
1. Gangguan Produksi: Cuaca ekstrem di pertengahan tahun menyebabkan penurunan produksi komoditas utama seperti beras, bawang merah, dan cabai.
2. Tingginya Permintaan Eksternal: Produk pangan Sumbar sangat diminati di luar provinsi, mulai dari Riau, Kepri, Jakarta, hingga merambah pasar Malaysia. Tingginya serapan beras dan cabai Sumbar untuk kebutuhan Rumah Makan Padang di Pulau Jawa turut mengerek harga di tingkat lokal.
“Untuk 2026, kami menargetkan inflasi kembali ke sasaran 2,25%±1%. Batas atas yang kita upayakan secara maksimal adalah 3,5%,” ujar Madjid, pada media briefing overview perekonomian 2025 dan outlook perekonomian 2026 di Padang, Senin (5/1/2026).
Lebih lanjut Abdul Madjid menjelaskan, pada sektor pertanian, yang menjadi tulang punggung ekonomi Sumbar, paling terdampak oleh bencana alam. Kerusakan lahan di kabupaten sentra produksi seperti Agam dan Tanah Datar akibat banjir dan longsor mengakibatkan penurunan pasokan yang signifikan.
“Bencana hidrometeorologi ini tidak hanya merusak lahan, tetapi juga menurunkan daya beli masyarakat. Momen Nataru (Natal dan Tahun Baru) yang biasanya terjadi lonjakan permintaan, kali ini justru cenderung menurun,” tambahnya.
Oleh sebab itu Bank Indonesia memiliki langkah strategis dalam pemulihan Infrastruktur dan UMKM di Sumbar, seperti untuk mengejar target pertumbuhan 4% di tahun 2026, Bank Indonesia menekankan dua langkah kunci:
– Pemulihan Infrastruktur Pertanian: BI mendorong percepatan perbaikan sistem pengairan dan irigasi di lahan terdampak. Penanganan yang lambat berisiko pada hilangnya luas lahan produktif secara permanen.
– Penguatan UMKM Inklusif: BI akan berkolaborasi dengan BUMN dan lembaga terkait untuk membangkitkan kembali pelaku UMKM, khususnya di Kota Padang dan kabupaten terdampak bencana, agar ekonomi tetap bergerak secara inklusif.
“Ini adalah tugas berat kita bersama. Pemulihan harus dilakukan secara konsisten agar ekonomi Sumatera Barat setidaknya mampu bertahan di angka 4 persen pada 2026 mendatang,” tutup Madjid.
(*)








Komentar