Sakato.co.id – Seorang balita laki-laki bernama Mustafa (4) dilaporkan hilang secara misterius di kawasan Ketaping, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman. Korban diduga kuat tenggelam di aliran sungai Kataping setelah terpisah dari pengawasan keluarganya sejak Kamis (23/4/2026) sore.
Menanggapi laporan tersebut, Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas A Padang langsung mengerahkan personel untuk melakukan operasi pencarian intensif pada Jumat (24/4/2026) pagi.
Peristiwa memilukan ini bermula pada Kamis sore sekitar pukul 17.00 WIB. Berdasarkan keterangan keluarga, ibu korban saat itu pergi meninggalkan rumah sejenak untuk mengisi daya (charge) ponsel di rumah tetangga yang berjarak sekitar 70 meter.
Mustafa dititipkan di bawah pengawasan kakaknya yang masih berusia 8 tahun. Namun, saat sang ibu kembali ke rumah, Mustafa sudah tidak terlihat di lokasi.
“Ibu korban sempat menanyakan keberadaan Mustafa kepada kakaknya. Sang kakak hanya menjawab bahwa adiknya pergi ke arah ladang sawit dan sungai,” ujar Kepala Kantor SAR Padang, Abdul Malik, Jumat (24/4/2026).
Upaya pencarian mandiri telah dilakukan oleh pihak keluarga bersama warga sekitar sejak Kamis malam, namun hingga Jumat pagi, balita malang tersebut belum juga ditemukan.
Laporan kehilangan baru diterima oleh Basarnas melalui Basarnas Command Center (BCC) pada Jumat pukul 08.10 WIB. Tanpa membuang waktu, tim rescuer langsung bergerak menuju lokasi kejadian (LKP).
“Pukul 08.27 WIB, kami telah memberangkatkan 13 personel rescuer dari Kantor SAR Padang. Estimasi waktu perjalanan menuju lokasi sekitar 30 menit,” tambah Abdul Malik.
Untuk memaksimalkan pencarian, tim dibekali dengan berbagai peralatan khusus penyelamatan air, di antaranya:
– Perahu Karet (LCR) + Mopel: Untuk menyisir aliran sungai.
– Peralatan SAR Air: Perlengkapan selam dan evakuasi air.
– Peralatan Medis & Komunikasi: Untuk penanganan darurat di lapangan.
– Rescue Car: Kendaraan operasional pendukung.
Hingga berita ini diturunkan, tim SAR gabungan bersama warga masih melakukan penyisiran di sepanjang aliran sungai Kataping dan area kebun sawit di sekitar lokasi hilangnya korban. Kondisi arus sungai dan cuaca setempat menjadi faktor yang terus dipantau oleh petugas di lapangan.
(*)









Komentar