ICDM 2026 di Padang: Kolaborasi Australia-Indonesia Perkuat Ketangguhan Berbasis Masyarakat

Sakato.co.id – Universitas Andalas (UNAND) Padang resmi menggelar The 5th International Conference on Disaster Management (ICDM) 2026, yang dilaksanakan di Gedung Convention Hall, Kampus Limau Manis, Padang, Selasa – Rabu (29-30 September 2026). Konferensi tingkat dunia ini berfokus membahas urgensi integrasi kearifan lokal ke dalam sistem manajemen kebencanaan modern.

Penyatuan nilai-nilai tradisional ke dalam riset akademis dan kebijakan praktis dinilai sangat krusial. Langkah strategis ini bertujuan mendekatkan masyarakat pada edukasi mitigasi, sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap peringatan dini bencana.

Gubernur Sumatra Barat melalui Asisten II Setda Prov Sumbar, Yozarwardi, menyampaikan bahwa penanggulangan bencana di era modern tidak bisa hanya mengandalkan kecanggihan teknologi.

“Manajemen kebencanaan memerlukan kekuatan nilai lokal agar potensi dampak buruk dapat diantisipasi secara tepat. Sumatra Barat memiliki kekayaan kearifan lokal yang masif dan teruji oleh waktu,” ujar Yozarwardi. Pihaknya berharap konferensi ini dapat melahirkan rekomendasi strategis bagi kebijakan pemda ke depan.

Dukungan senada disampaikan Counsellor for Knowledge and Innovation Kedutaan Australia, Paula Gerhardt. Ia menegaskan bahwa membangun ketangguhan bencana adalah upaya bersama melalui kemitraan yang kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, dan organisasi kemanusiaan.

Paula juga menyoroti pentingnya hilirisasi riset di bidang kebencanaan agar bukti ilmiah dapat langsung diterjemahkan menjadi aksi nyata di lapangan.

“Ketangguhan yang berkelanjutan idealnya dipimpin dan dimiliki oleh masyarakat setempat. Teknologi dan dukungan luar tentu membantu, tetapi solusi paling tepat dirancang berdasarkan pengetahuan lokal,” ungkap Paula. Prinsip kemandirian ini juga menjadi landasan program kesiapsiagaan bencana kolaborasi Australia-Indonesia, SIAP SIAGA.

Sementara itu, Sekretaris Utama (Sestama) BNPB, Dr. Rustian, menekankan bahwa kearifan lokal menyimpan ingatan kolektif dan pengalaman empiris lintas generasi yang wajib menjadi fondasi strategi mitigasi. Ia mendesak agar fokus nasional diperkuat pada fase pra-bencana (pengurangan risiko), bukan sekadar respons pasca-bencana.

“Sebagai langkah konkret merawat memori kolektif masyarakat, penting juga membangun monumen sejarah fisik di lokasi terdampak. Ini menjadi pengingat abadi bahwa bencana serupa pernah terjadi dan berpotensi terulang,” jelas Dr. Rustian.

Menutup rangkaian pembukaan, Rektor Universitas Andalas, Prof. Efa Yonedi, menegaskan komitmen perguruan tinggi untuk menjadi ruang publik yang menjembatani riset, kebijakan, dan aksi riil di masyarakat.

“UNAND terus berkontribusi nyata melalui peningkatan kapasitas SDM lewat Program Magister Manajemen Bencana serta riset interdisipliner. Meskipun bencana dapat berulang, faktor penyebabnya kerap berbeda, sehingga pendalaman sains dan pengetahuan lokal harus terus berjalan secara selaras,” pungkas Efa Yonedi.

ICDM 2026 menghadirkan sejumlah keynote speaker dari Indonesia dan berbagai negara, yaitu Prof. Dr. Syamsu Maarif dari Universitas Pertahanan, Prof. Dr. Eng. Teuku Faisal Fathoni dari BMKG, Prof. Marlon De Luna Era dari De La Salle University Filipina, Prof. Saravanan Subbarayan dari National Institute of Technology Tiruchirappalli India, Dr. Asita De Silva dari University of Colombo Sri Lanka, Lucy Dickinson dari Australia-Indonesia Partnership in Disaster Management (AIP-DRM), Prof. Ahmad Safuan A. Rashid dari Universiti Teknologi Malaysia, serta Prof. Dr. Eng. Ir. Febrin Anas Ismail, M.T. dari Center for Disaster Studies Indonesia.

(*)

Komentar