Sakato.co.id – Atmosfer haru sekaligus penuh tantangan menyelimuti Gedung Auditorium Kampus Limau Manis pada Sabtu (14/2/2026). Universitas Andalas (UNAND) resmi meluluskan 1.333 wisudawan dalam prosesi Wisuda Terpusat Perdana tahun 2026.
Bukan sekadar seremoni akademik biasa, wisuda kali ini menjadi panggung bagi Rektor UNAND, Efa Yonnedi, Ph.D, untuk memberikan “bekal” realitas mengenai kondisi dunia yang sedang tidak baik-baik saja.
Dalam pidatonya yang visioner, Rektor Efa Yonnedi menegaskan bahwa para lulusan baru ini sedang memasuki gerbang dunia yang berada di tepi ketidakpastian tinggi. Ia menggambarkan perjalanan karier para alumni ke depan akan dihadang oleh dua “kabut tebal”.
1. Kabut Disinformasi: Mengutip laporan World Economic Forum tahun 2026, disinformasi ditempatkan sebagai salah satu risiko global terbesar. Misinformasi yang lahir dari ketidakakuratan maupun disinformasi yang sengaja memutarbalikkan fakta dinilai berpotensi menyesatkan publik dan membentuk opini yang keliru.
“Saudara lulus saat fakta bisa diputarbalikkan dengan sengaja. Ini berpotensi menyesatkan publik dan membentuk opini yang keliru,” tegasnya.
2. Kabut Krisis Bumi: Kabut kedua adalah ancaman nyata perubahan iklim. Menurutnya, krisis lingkungan bukan lagi sekadar dongeng, melainkan kekuatan struktural yang mampu melumpuhkan ekonomi dan merusak infrastruktur dalam sekejap.
Robot vs Empati Manusia
Menghadapi masifnya tren otomasi dan kecerdasan buatan (AI), Rektor mengungkapkan data bahwa 44 persen keterampilan kerja akan berubah total dalam lima tahun ke depan. Namun, ia menenangkan para wisudawan dengan satu poin krusial: Mesin tidak memiliki nurani.
“Empati, penilaian etis, dan pengawasan moral adalah peran manusia yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh robot sehebat apa pun,” jelas Efa Yonnedi di hadapan ribuan wisudawan.
Sebagai modal berlayar di tengah badai ketidakpastian, Rektor menitipkan tiga pesan kunci bagi lulusan UNAND:
– Tajamkan Berpikir Kritis: Jangan mudah tertelan arus informasi yang tidak jelas sumbernya.
– Meta-Learning: Jangan berhenti belajar agar tetap adaptif terhadap perubahan teknologi yang kilat.
– Pembangunan Inklusif: Berkontribusi pada ekonomi tanpa merusak alam sekitar.
Menutup prosesi tersebut, Rektor mengajak para lulusan untuk bangkit dan mengambil kendali masa depan.
“Jangan takut pada badai, karena saudara adalah lulusan UNAND yang tangguh. Selamat berlayar, selamat berkarya, dan jadilah navigator yang membawa Indonesia menuju pelabuhan kemakmuran yang berkeadilan,” pungkasnya.
(*)









Komentar