Menyikapi Pemilu 2024 dengan Baik dan Bijak

Havina Mirsya ‘Afra - Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

Sakato.co.id- Indonesia sebentar lagi akan mengadakan pemilihan umum (pemilu) di tahun 2024 yang akan datang, dan kita semua pun merasakan hingar bingar yang terasa semakin hangat setiap hari nya. Jutaan pemilih akan berbondong-bondong mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) untuk memberikan suaranya dan menentukan masa depan Indonesia dalam lima tahun yang akan datang. Diadakan sekali lima tahun, pergelaran ini tentu menjadi salah satu gelaran akbar yang dilaksanakan negara dan, tentu saja, sekali lagi, menarik minat banyak pihak.

Hingga artikel ini ditulis, dipastikan sudah ada tiga koalisi besar yang terbentuk untuk maju berkompetisi dalam pemilu 2024. Kita semua tahu itu; Anies-Muhaimin, Ganjar-Mahfud MD, Prabowo-Gibran. Dari sisi bakal calon presiden (bacapres), ketiga tokoh yang menjadi bacapres sebelumnya juga telah sering wara-wiri di media, salah satunya ketika disatukan dalam acara Mata Najwa yang membahas gagasan dari masing-masing bacapres. Tayangan tersebut dapat diakses oleh masyarakat melalui kanal YouTube sehingga masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia bahkan yang berada di luar negeri dapat mempelajari gagasan yang diajukan oleh masing-masing bacapres apabila terpilih menjadi pemimpin Indonesia selanjutnya.

Namun, kita tidak akan membahas gagasan dari masing-masing kandidat. Kita masing-masing dapat memberikan penilaian terhadap setiap kandidat. Tulisan ini hanya ingin mengingatkan kembali, tanpa bosan, mengenai bagaimana kita sebagai masyarakat menyikapi pemilu ini, terutama dalam membagikan informasi dan berpendapat di akun media sosial masing-masing.

Hampir semua orang kini memiliki smartphone. Hampir semua orang memiliki akses ke internet sehingga mampu mendapatkan informasi apapun yang diinginkan. Hampir semua orang juga tergabung dalam berbagai jenis WhatsApp Group yang juga memudahkan penyebaran informasi apapun. Semua orang juga bebas menyampaikan pendapat nya melalui platform apapun. Namun, harus kembali diingat, kebebasan berpendapat harus diiringi dengan rasa bertanggung jawab serta adab dan etika dalam menyampaikan pendapat, apalagi dalam menggunakan media sosial. Semua orang bebas memilih dengan pertimbangannya masing-masing. Berbeda pilihan tentu bukan lah suatu masalah apabila kita mampu menyikapinya dengan baik. Semua orang memiliki alasan dan pertimbangan masing-masing sehingga wajar perbedaan itu ada.

Media sosial sebagai media baru kini menjadi salah satu faktor yang sangat berpengaruh dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Media sosial lahir dari perkembangan teknologi yang semakin canggih setiap harinya dan lambat laun juga ikut berpartisipasi dalam kehidupan politik suatu negara. Siapa yang pernah menyangka berbagai platform media sosial seperti Facebook, Twitter (kini yang diganti menjadi X), Instagram, hingga TikTok ikut serta dalam pesta demokrasi kita dan menjadi salah satu pemain tangguh yang tak pernah terbayangkan.

Melakukan kampanye melalui media sosial menjadi hal yang biasa kita lihat dan dilakukan dimana saja. Terdapat studi yang menunjukkan bahwa di Amerika Serikat media sosial menjadi alat kampanye yang efektif (Anshari, 2013). Sejumlah penelitian memperlihatkan bahwa politisi yang ada di seluruh dunia telah menggunakan media sosial untuk menjalin hubungan dengan konstituennya, berinteraksi langsung dengan masyarakat dan membentuk sebuah diskusi, sehingga kemampuan media sosial menciptakan ruang dialog antara politisi dengan masyarakat terutama dalam menarik minat pemilih pemula menjadikan media sosial semakin penting bagi seorang politisi (Stieglitz & DangXuan, 2012, dalam Anshari, 2013).

Media sosial mampu menghilangkan jarak antara aktor politik dengan masyarakat. Masyarakat bisa dengan mudah menyampaikan aduan atau gagasan kepada aktor politik tertentu hanya melalui media sosial. Selain itu, seperti yang sempat disinggung sebelumnya, media sosial juga disaat yang bersamaan melahirkan fenomena buzzer yang sering kali dianggap masyarakat sebagai sekelompok orang yang menyebarkan berita tidak benar, berniat untuk menyerang pihak-pihak tertentu, serta mempengaruhi opini publik.

Buzzer dapat kita pahami sebagai seseorang atau sekelompok orang yang aktif menggunakan media sosial untuk menyebarkan pesan politik, mempengaruhi opini publik, dan memanipulasi persepsi masyarakat terhadap seorang kandidat atau partai politik tertentu (Wulandari, Muqsith, & Ayuningtyas, 2023). Keberadaan buzzer menjadi alarm bagi kita semua bahwa belum tentu informasi yang beredar dan yang kita dapatkan adalah informasi yang benar, sehingga penting untuk menyaring informasi yang diterima sebelum disebarkan kepada orang lain.

Apabila mendapatkan sebuah informasi, kita bisa melakukan recheck dengan memanfaatkan Google atau bahkan dengan chatGPT yang menggunakan artificial intelligence (AI) sehingga bisa membantu dalam memastikan kebenaran dari suatu informasi.

Banyak cara yang bisa kita gunakan untuk memastikan kebenaran dari suatu informasi. Selain itu, salah satu hal penting yang harus selalu kita ingat adalah bagaimana memanfaatkan media sosial dalam masa-masa seperti ini. Kita harus mampu mengendalikan diri dalam memberikan pendapat di media sosial yang mana update yang kita berikan dapat dibaca atau menjangkau siapa saja. Sebagai masyarakat dan pengguna media sosial, memang kita dituntut lebih aktif dan kritis dalam menerima dan menyebarkan informasi.

Tsunami informasi yang terjadi saat ini tentu saja dapat membingungkan kita karena banyak dan cepatnya berbagai jenis informasi yang diterima dalam sekejap, terutama dalam masa-masa pesta politik akbar saat ini.

Oleh karena itu, sekali lagi, tanpa bosan, marilah kita bijak dalam menggunakan media sosial. Apabila ragu dengan suatu informasi, lebih baik tidak usah disebarkan. Memang kita yang harus lebih rajin dalam memilah informasi yang didapat. Selain itu, tentu saja kita berharap dengan pemilu yang akan datang, kita akan menemukan pemimpin yang dapat membawa perubahan baik untuk negara tercinta ini. Salam demokrasi dan selamat berpesta untuk kita semua.

 

Referensi

Anshari, F. (2013). Komunikasi Politik di Era Media Sosial. Jurnal Komunikasi, Vol. 8, No. 1, 91-102.

Wulandari, C. D., Muqsith, M. A., & Ayuningtyas, F. (2023). Fenomena Buzzer Di Media Sosial Jelang Pemilu 2024 Dalam Perspektif Komunikasi Politik . Avant Garde: Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. 11, No. 01, 134-147.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *