Menatap Ekonomi Sumbar 2026: Bangkit dari Pascabencana, Mengincar Peluang di Tengah Tantangan

Sakato.co.id – Optimisme menyelimuti proyeksi ekonomi Sumatera Barat (Sumbar) di tahun 2026. Setelah melewati masa-masa sulit akibat bencana hidrometeorologi di tahun 2025, Bank Indonesia (BI) memprediksi ekonomi Ranah Minang akan tancap gas dan mengalami akselerasi signifikan.

Dalam acara “Dialog Ekonomi 2026” di Padang, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat, Mohamad Abdul Majid Ikram, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Sumbar pada 2026 diproyeksikan melonjak ke angka 3,8% hingga 4,6% (yoy).

Melewati “Tahun Sulit” 2025 Majid Ikram menjelaskan bahwa tahun 2025 merupakan periode penuh tantangan. Pertumbuhan ekonomi Sumbar diperkirakan hanya tertahan di angka 3,33% hingga 4,13%—berada di bawah rata-rata nasional.

“Penurunan luas panen padi dan perlambatan sektor konstruksi akibat realokasi anggaran untuk penanganan bencana menjadi faktor utama. Ditambah lagi, inflasi sempat tertekan akibat cuaca ekstrem yang merusak infrastruktur distribusi pangan,” jelasnya.

Untuk membalikkan keadaan di tahun 2026, BI mengidentifikasi tiga faktor kunci yang akan menjadi mesin pertumbuhan:

1. Geliat Mega Proyek: Investasi besar siap mengalir melalui proyek strategis seperti Flyover Sitinjau Lauik senilai Rp2,79 triliun, Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) seksi Sicincin-Bukittinggi sebesar Rp18 triliun, hingga ekspansi energi hijau melalui PLTP Muara Laboh II senilai Rp8 triliun.

2. Kekuatan Dana Perantau: BI mencatat adanya potensi “dana tidur” dari perantau Minang (net inflow) yang mencapai rata-rata Rp5 triliun per tahun. Jika iklim investasi daerah membaik, dana ini diprediksi mampu menyumbang hingga 1,5% terhadap PDRB.

3. Modernisasi Digital: Lonjakan penggunaan QRIS dan BI-FAST di masyarakat mempercepat perputaran uang dan efisiensi ekonomi di tingkat UMKM hingga ritel.

Satu hal menarik yang disoroti Majid Ikram adalah potensi besar di sektor pariwisata. Saat ini, tercatat ada sekitar 25 ribu kursi penerbangan kosong setiap bulannya menuju Sumatera Barat.

“Ini adalah peluang yang belum tergarap. Jika kita bisa mengisi kursi-kursi kosong ini dengan wisatawan, ada potensi tambahan nilai ekonomi hingga Rp1,05 triliun per tahun bagi Sumbar,” ungkap Majid.

Ia juga mendorong Sumbar untuk mulai berani menjajaki sektor non-tradisional seperti industri data center, jasa kesehatan bertaraf internasional, dan optimalisasi energi terbarukan demi mengejar target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 7,3% di masa depan.

Meski optimis, BI tetap memberikan catatan merah pada ketidakpastian geopolitik global yang bisa memicu kenaikan harga komoditas seperti emas, serta ancaman cuaca ekstrem yang dapat mengganggu ketahanan pangan.

“Kunci utama di tahun 2026 adalah seberapa cepat kita melakukan pemulihan pasca-bencana. Akselerasi infrastruktur dan stabilitas harga pangan harus berjalan beriringan agar roda ekonomi kembali berputar normal,” pungkas Majid Ikram.

(*)

 

Komentar