Film Berlatar Yogyakarta Vaterland or A Bule Named Yanto Menang Penghargaan di Cannes Film Festival 2026

Sakato.co.id – Berlatar di Yogyakarta, film pendek ko-produksi Indonesia–Jerman VATERLAND or A Bule Named Yanto karya sutradara Berthold Wahjudi menghadiri undangan world premiere dalam kompetisi La Semaine de la Critique (Cannes Critics’ Week) pada 19 Mei 2026 dalam rangkaian Cannes Film Festival.

Film ini mengikuti perjalanan Yanto, seorang pemuda keturunan Jerman–Indonesia yang datang mengunjungi adik perempuannya di Indonesia. Pertemuan tersebut berkembang menjadi refleksi tentang identitas, rasa memiliki, dan keterasingan di antara dua budaya.

Pada 21 Mei 2026, Cannes Critics’ Week mengumumkan bahwa VATERLAND or A Bule
Named Yanto meraih CANAL+ Award, penghargaan dari platform distribusi dan jaringan televisi Prancis, CANAL+. Film ini juga menjadi satu dari dua film pendek yang menerima penghargaan dalam program La Semaine de la Critique tahun ini.

Pencapaian ini menjadi kabar baik bagi perfilman Indonesia karena film ini berlatar di
Yogyakarta dan diproduksi bersama Aftersun Creative Indonesia bersama Madfilm (Jerman) dengan mayoritas kru berasal dari Indonesia.

Annisa Adjam, produser dari Indonesia sekaligus founder Aftersun Creative, menyampaikan, “bisa membuat film berlatar di Jogja dengan perspektif minoritas, orang dengan kultur campuran seperti ini, lalu mendapatkan reaksi yang sangat baik dari penonton Cannes kemarin, menjadi pengalaman yang sangat berarti buat kami. Harapannya justru ini menjadi pembuka agar Yanto bisa terus berpetualang ke berbagai ruang menonton, khususnya di Indonesia dan berbagai negara lainnya.” kata dia.

Perjalanan Annisa Adjam dan Bagus Suitrawan di Cannes menjadi bagian dari upaya
memperluas jejaring internasional bagi film independen Indonesia dan membuka peluang
perjalanan festival berikutnya untuk VATERLAND or A Bule Named Yanto.

Pencapaian ini juga menjadi kebanggaan bagi Sumatera Barat. Annisa Adjam, produser Indonesia di balik VATERLAND or A Bule Named Yanto sekaligus founder Aftersun Creative, merupakan filmmaker kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, yang aktif membawa cerita-cerita Asia Tenggara dan isu identitas ke berbagai ruang perfilman internasional.

(*)

Komentar