Sakato.co.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan rentetan bencana hidrometeorologi kering yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia hingga Selasa (1/9/2026) pukul 07.00 WIB. Laporan Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi (Dit. Koordalops) BNPB mencatat kejadian bencana saat ini didominasi oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta krisis air bersih.
Salah satu peristiwa karhutla melanda Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, pada Senin (31/8/2026) sekitar pukul 11.00 WIB. Kebakaran yang diduga akibat aktivitas pembakaran sampah dan pembersihan lahan oleh warga tersebut dengan cepat meluas hingga menghanguskan area seluas 11,1 hektare.
Api membakar lahan di beberapa lokasi, meliputi Desa Karkitan (Kecamatan Bayat), Desa Dlimas (Kecamatan Ceper), serta Desa Banaran dan Desa Segaran (Kecamatan Delanggu). Petugas gabungan bergerak cepat memadamkan api hingga berhasil dikendalikan di hari yang sama tanpa adanya korban jiwa.
Sementara itu di Provinsi Sulawesi Selatan, dampak musim kemarau memicu kekeringan di Kabupaten Bulukumba. Fenomena ini menyebabkan ketersediaan air bersih bagi warga di Desa Ujung Loe, Kecamatan Manyapa, menyusut drastis.
Sebanyak 18 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 72 jiwa terdampak akibat krisis air ini. Menanggapi kondisi tersebut, BPBD Kabupaten Bulukumba telah menyalurkan bantuan darurat berupa satu tangki air bersih berkapasitas 5.000 liter untuk memenuhi kebutuhan harian warga.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Ph.D., mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan memasuki puncaknya musim kemarau.
“Pemerintah daerah diharapkan memastikan ketersediaan pasokan air bersih serta kesiapan armada pemadam. Sementara masyarakat diimbau tidak membakar lahan, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta menghemat penggunaan air,” tegas Berton.
BNPB juga mengingatkan warga di area terdampak karhutla untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan guna menghindari paparan asap. Masyarakat diminta terus memantau informasi resmi dari BMKG maupun BPBD, serta segera melaporkan potensi titik api atau kondisi darurat melalui call center BNPB di nomor 117.
(*)







Komentar