Sakato.co.id – Pewarta Foto ANTARA Iggoy el Fitra meluncurkan buku berisi 33 karya tulisannya yang dirangkum sejak tahun 2009 di Perpustakaan dan Arsip Steva, Padang, Sumatera Barat, Sabtu (31/1/2026).
Buku yang diberi judul Orang-orang Bermata Biru di Minangkabau itu juga dibedah langsung bersama penulisnya serta pembedah lainnya yakni Kepala Biro ANTARA Sumbar Syarif Abdullah, Pemimpin Redaksi Langgam.id Yose Hendra dan Ketua AJI Padang Novia Harlina sebagai moderator.
“Buku ini saya mulai garap sekitar tahun 2020, namun pengumpulan karyanya sudah jauh sebelum itu karena saya harus menyortir tulisan-tulisan lama sejak tahun 2007, namun yang layak hanya dari tahun 2009.” kata Iggoy saat peluncuran buku, Sabtu.
Rencananya buku ini akan dilaunching bertepatan dengan HUT ANTARA ke-88 pada 13 Desember 2025 namun karena bencana banjir bandang terjadi pada akhir November 2025 dan penulisnya juga terdampak, maka peluncuran baru bisa dilaksanakan tahun 2026.
Selain tulisan, buku ini juga menampilkan karya fotografi jurnalistik berwarna yang mendampingi masing-masing karya feature.
Sebagai seorang pewarta foto, Iggoy sengaja mengumpulkan tulisan-tulisan jurnalistiknya dalam sebuah buku sebagai upaya mengampanyekan gerakan Pewarta Foto Menulis sekaligus mengabadikan tulisan dalam sebuah buku tunggal pertama.
“Selain memotret, pewarta foto juga harus bisa menulis, karena dalam satu foto tidak bisa mewakili seribu kata, dia harus dijelaskan dan dipaparkan agar tidak ada misinterpretasi dari pembaca,” kata fotografer bernama asli Fitra Yogi itu.
Kepala Biro ANTARA Sumatera Barat, Syarif Abdullah sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Iggoy dengan merangkum karya-karya jurnalistiknya yang pernah ditayangkan di ANTARA dalam sebuah buku.
“Saya melihat buku ini memiliki karakter dan gaya yang menggambarkan dia seorang fotografer, Iggoy lebih menggambarkan lebih detail, seolah-olah dia momotret suasana. Dia bisa mengawali sebuah paparan dari ficer perjalanan itu dengan kata-kata menarik,” kata Syarif.
Menurutnya di era konvergensi ini, seorang fotografer tidak hanya sekedar untuk memotret, tidak hanya membuat caption, tapi dia harus bisa membuat tulisan.
Sementara itu, Pemimpin redaksi Langgam.id Yose Hendra, menyatakan, apapun wujudnya buku adalah mahkota seorang jurnalis.
Yose menilai, ketika Iggoy dikenal sebagai fotografer, dia memotret cerita-cerita dalam bentuk foto, tapi dia sekarang memotret dalam bentuk tulisan, hal inilah yang menarik.
Walaupun katanya satu foto mewakili 1.000 kata, Yose menilai pada tulisan lebih banyak aspek yang dapat dipaparkan.
“Dalam liputan Iggoy punya daya jelajah yang tinggi, dia masuk ke pelosok-pelosok, menembus batas-batas ruang dan waktu, dia memang gigih. Tentu yang mencengangkan Iggoy adalah fotografer, meskipun memang dia dulunya dikenal sebagai penulis sastra,” kata Yose.
Beberapa tulisan dalam buku itu menurutnya masih sangat relevan hingga sekarang, sebab ada isu-isu yang pernah disuarakan dan isu itu juga dilupakan.
“Saya melihat buku ini adalah jurnalisme naratif, karena lebih bercerita. Hal menarik dari seorang wartawan, terutama yang punya latar belakang sastra menjadi lebih hidup karyanya. Seperti diksi judul, pemilihan lead menjadikan kita terpicu untuk membaca,” tambah Yose.
Kegiatan peluncuran dan bedah buku tersebut dihadiri puluhan pengunjung serta sejumlah akademisi dan mahasiswa beberapa kampus di Padang.
Pembaca juga dapat melakukan pemesanan buku dengan 183 halaman itu melalui Instagram @pustakasteva, atau melalui nomor: 085210991952.
(*)






Komentar