Sinergi ABG: Balai Besar POM di Padang dan UNAND Dorong Rendang Sumbar Tembus Pasar Global

Sakato.co.id – Akselerasi produk pangan olahan berbasis warisan budaya nusantara untuk menembus pasar internasional membutuhkan sinergi kuat antara tiga elemen utama: akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah (Academia, Business, Government / ABG).

Saat ini, kolaborasi ABG terus diperkuat untuk mendongkrak daya saing rendang—kuliner khas Sumatera Barat—di kancah global. Salah satu langkah konkret yang ditempuh adalah penyediaan dan penerapan teknologi sterilisasi komersial berstandar internasional. Kendati demikian, berbagai tantangan teknis maupun regulasi masih memerlukan pembahasan mendalam guna menemukan solusi yang tepat.

Guna menjawab tantangan tersebut, Badan POM melalui Balai Besar POM (BBPOM) di Padang menggelar kegiatan “Dialog Interaktif ABG untuk Akselerasi Produk Gastronomi Nusantara ke Pasar Global” dengan mengusung tema “Sinergi ABG: Gastronomi Lokal Mendunia”. Acara ini berlangsung di Ruang Rapat Senat, Gedung Rektorat Lantai 4, Kampus Universitas Andalas (UNAND) Limau Manis, Padang, pada Selasa (15/9/2026).

Kepala Balai Besar POM di Padang, Irwan, S.Si, Apt., MKM, menegaskan bahwa program kolaborasi ABG merupakan salah satu prioritas utama Badan POM. Sinergi ini bertujuan menyatukan potensi universitas sebagai pusat keahlian, keandalan dunia industri, serta peran pemerintah sebagai regulator.

“Industri memiliki ruang besar untuk menghadirkan inovasi produk baru. Di sisi lain, kampus merupakan pusat talent dan sarat akan pakar. Sementara itu, pelaku usaha dan akademisi membutuhkan peran Badan POM dalam hal sertifikasi, lisensi, izin edar, tata cara distribusi, hingga penerapan Cara Pembuatan Pangan Olahan yang Baik (CPPOB),” ujar Irwan.

Irwan menambahkan, Badan POM berkomitmen penuh mendampingi proses pembinaan dan perizinan agar UMKM pangan olahan dapat berkembang secara bertahap.

“Kami ingin membantu usaha mikro naik kelas menjadi usaha kecil, usaha kecil menjadi menengah, hingga nantinya mampu berkembang menjadi industri skala besar. Badan POM konsisten memberikan asistensi, pendampingan perizinan, hingga menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembangnya industri lokal,” jelasnya.

UNAND Siapkan Program Kokreasi dan Roadmap 5 Tahun untuk UMKM Rendang

Senada dengan hal tersebut, Rektor Universitas Andalas, Dr. Efa Yonnedi, S.E., MPPM., Akt., menyatakan komitmen kuat UNAND dalam mendukung pengembangan UMKM rendang di Sumatera Barat agar tidak hanya menguasai pasar domestik, tetapi juga mampu memenuhi standar pasar internasional.

“Keberadaan UNAND harus memberikan dampak nyata yang dirasakan langsung oleh para pengusaha rendang di Sumbar. Strategi yang akan kita dorong ke depan adalah melalui program kokreasi (co-creation) untuk membangun kapasitas para pelaku usaha agar siap masuk ke pasar ekspor,” ungkap Efa.

Efa menekankan pentingnya pelatihan ekspor yang terarah, mengingat setiap negara tujuan memiliki regulasi dan karakteristik pasar yang berbeda-beda.

“Karakteristik pasar Malaysia tentu berbeda dengan Timur Tengah maupun Eropa. Kampus memiliki pakar yang paham mengenai standar dan requirement tersebut. Hal-hal yang awalnya terlihat rumit bagi pengusaha sebenarnya bisa disederhanakan jika didampingi dengan benar,” tambahnya.

Tak hanya itu, UNAND juga menawarkan pendampingan jangka panjang secara berkelanjutan agar pembinaan tidak bersifat parsial atau hit and run.

“Jika UMKM serius, kita bisa menyusun roadmap pengembangan selama 5 tahun dengan indikator kinerja (KPI) yang jelas setiap tahunnya sampai mereka benar-benar naik kelas. Ini adalah sinergi luar biasa antara akademisi, bisnis, dan pemerintah. Ketika kita duduk bersama, solusi atas berbagai tantangan pasti bisa ditemukan,” pungkas Rektor UNAND.

(*)

Komentar