Sakato.co.id – Upaya memperkuat kesiapsiagaan para masyarakat menghadapi bencana terus dilakukan Dompet Dhuafa Singgalang melalui kolaborasi bersama Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa) dan Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menggelar Pelatihan Dai Tanggap Bencana Batch 4 untuk wilayah Sumatera Barat, Melalui pelatihan ini, para dai diharapkan bisa menjadi sarana dalam menyiarkan kesiapsiagaan bencana kepada umat.
Kegiatan ini digelar selama tiga hari, (19–21/8/2026), di Lestari Alam Camp, Padang Pariaman, dengan diikuti oleh 50 peserta yang terdiri dari para dai, mahasiswa, hingga relawan dari sejumlah organisasi dan organisasi kampus Islam di Sumatera Barat.
Dalam pelatihan, para peserta mendapatkan materi mulai dari manajemen bencana, pertolongan pertama, triage, asesmen kebutuhan darurat penyintas, hingga kerelawanan. Materi juga mencakup fiqh kebencanaan, pemahaman psikologis penyintas, serta praktik pemulasaran jenazah.
Dalam Pembukaannya turut di buka oleh Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Padang Pariaman, Taslim Neter, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan pelatihan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi peluang penting untuk memperkuat peran dai di tengah masyarakat, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi.
“Semoga dai-dai yang ikut pelatihan ini bisa dan harus berperan aktif, bekerja sama dengan masyarakat, pemerintah dan lainnya untuk menanggulangi bencana baik sebelum, saat kejadian, ataupun sesudah kejadian,” ujar Taslim.
Ia juga berharap para dai mampu meneruskan pengetahuan kebencanaan yang diperoleh selama pelatihan kepada masyarakat luas, sehingga kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap bencana dapat tumbuh di tengah komunitas.
Hal senada disampaikan Yusrizal dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Padang Pariaman.
Ia menilai keberadaan dai yang memiliki wawasan kebencanaan dapat memberikan kontribusi penting, khususnya dalam membantu penyintas menghadapi tekanan psikologis setelah bencana.
“Dai-dai punya peran penting pada penanganan untuk masalah psikologis seperti trauma yang dihadapi warga terdampak bencana,” ucapnya.
Sementara itu, Direktur Program Sosial, Kemanusiaan, dan Dakwah ID Humanity Dompet Dhuafa, Ahmad Sonhaji, menjelaskan bahwa posisi dai sangat strategis dalam setiap tahapan penanggulangan bencana, mulai dari mitigasi, respons, hingga pemulihan.
Menurutnya, dai dapat mengambil peran melalui edukasi kesiapsiagaan di masjid, majelis taklim, maupun pengajian. Pada fase respons, dai juga dapat membantu menguatkan kondisi emosional masyarakat yang terdampak.
“Dai memiliki posisi strategis dalam melakukan pengelolaan kebencanaan, mulai dari proses mitigasi hingga saat respons,” jelas Ahmad Sonhaji.
Pada tahap pemulihan, lanjutnya, dai juga dapat berkontribusi dalam membangun kembali semangat dan penguatan spiritual masyarakat yang terdampak bencana.
Melalui kegiatan tersebut, berbagai unsur lintas kolaborasi turut memperkuat sinergi dalam pelatihan dai tanggap bencana Batch 4 diantaranya melibatkan Dompet Dhuafa Volunteer (DDV) Sumatra Barat, Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Sumatra Barat, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Padang Pariaman.
Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan tidak hanya memahami konsep dan teori kebencanaan, tetapi juga memiliki kesiapan untuk terlibat langsung dalam upaya penanggulangan bencana di tengah masyarakat.
Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal bagi para dai dan relawan untuk mengambil peran pada berbagai tahapan kebencanaan, mulai dari edukasi dan mitigasi hingga respons dan pendampingan masyarakat terdampak.
Dengan demikian, para peserta diharapkan dapat menjadi bagian dari ekosistem kesiapsiagaan bencana yang tumbuh dan bergerak bersama di Sumatera Barat.
(*)






Komentar