Sakato.co.id – Langkah awal PSP Padang di Putaran Nasional Liga 4 2025/2026 Grup H harus diawali dengan hasil minor. Tim berjuluk Pandeka Minang ini terpaksa mengakui keunggulan tuan rumah Mataram Utama FC dengan skor tipis 0-1 dalam laga perdana yang digelar di Stadion Mandala Krida, Sabtu (30/5/2026) sore.
Kekalahan ini terasa menyakitkan lantaran ditentukan oleh keputusan kontroversial wasit Umar asal Surakarta yang menghadiahkan penalti bagi tuan rumah di menit-menit krusial. Kapten Mataram Utama FC, Harry Kusuma Silaban, yang maju sebagai eksekutor sukses menjalankan tugasnya dan mengunci kemenangan bagi timnya.
Sejak peluit kick-off ditiup pukul 15.30 WIB, kedua tim langsung memperagakan permainan terbuka dengan tempo tinggi. PSP Padang mengandalkan kreativitas Agung Wijaksono dan Lugas Satrya Pratama di lini tengah untuk menyuplai bola ke trio lini depan yang diisi Ariswar Hanif, Harun La Ode, dan Gibran Tito Kurniawan.
Beberapa peluang emas sempat tercipta melalui skema umpan terobosan. Namun, rapat dan disiplinnya barisan pertahanan Mataram Utama FC membuat sejumlah serangan PSP Padang hanya berbuah sepak pojok tanpa konversi gol.
Tak tinggal diam, Mataram Utama FC kerap merepotkan melalui tusukan dari sektor sayap. Beruntung, duet benteng pertahanan PSP, Bima Prahara dan Rizza Fadillah Hafruddin, tampil solid meredam setiap ancaman. Skor kacamata 0-0 bertahan hingga turun minum.
Memasuki paruh kedua, intensitas serangan Mataram Utama semakin menjadi-jadi. Kiper PSP Padang, Rafiq Effendi, dipaksa bekerja keras dan melakukan beberapa penyelamatan gemilang demi menjaga kesucian gawangnya.
Merespons tekanan lawan, Pelatih PSP Padang, Joni Efendi, melakukan penyegaran strategi pada menit ke-54. Ia memasukkan Kaka Muhammad Seva, Feruzen Maulana, dan Syarif Hidayatullah untuk menggantikan Vendra Aprilianda, Lugas Satrya Pratama, dan Ariswar Hanif.
Strategi ini sempat mendongkrak agresivitas serangan Pandekar Minang. Peluang emas didapatkan lewat kerja sama Feruzen Maulana dan Luthfi Al Anshorri yang diselesaikan dengan sepakan kaki kiri La Ode Muhammad Harun. Sayang, bola masih melambung di atas mistar. Tak lama berselang, tendangan keras Feruzen juga masih melebar dari sasaran.
Tensi pertandingan mulai memanas di menit ke-75 seiring beberapa keputusan wasit yang dinilai merugikan kubu PSP Padang, termasuk pembiaran terhadap sejumlah pelanggaran keras.
Puncaknya terjadi pada menit ke-84. Wasit Umar menunjuk titik putih setelah menilai tekel Bima Prahara di dalam kotak penalti sebagai pelanggaran. Meski menuai protes keras dari para pemain PSP Padang, wasit tetap bergeming. Harry Kusuma Silaban yang mengeksekusi penalti berhasil mengubah skor menjadi 1-0.
Tertinggal satu gol membuat fokus pemain PSP Padang buyar dan memicu sejumlah insiden gesekan di lapangan. Memasuki menit ke-90, laga sempat terhenti setelah pemain PSP, Kaka Muhammad Seva, mengalami benturan keras hingga tak sadarkan diri. Ia harus ditandu keluar lapangan dan dilarikan ke rumah sakit, kemudian digantikan oleh Rama Fazako Aristik. Hingga laga usai, skor 1-0 untuk kemenangan tuan rumah tetap bertahan.
Usai laga, Pelatih Kepala PSP Padang, Joni Efendi, tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya terhadap kepemimpinan pengadil lapangan. Menurutnya, penalti tersebut tidak sah karena tekel yang dilakukan anak asuhnya murni mengenai bola.
“Kalau dilihat dari tayangan ulang, tekel itu bersih tanpa menyentuh kaki lawan. Bola sudah dalam penguasaan, tapi tetap dianggap pelanggaran,” ujar Joni dengan nada kecewa.
Joni mengapresiasi kerja keras skuadnya yang tampil disiplin sepanjang laga, namun ia menyayangkan hasil akhir yang justru ditentukan oleh faktor luar lapangan.
“Kami main aman sepanjang laga dan mampu mengimbangi mereka. Tapi di menit akhir, begitu mereka masuk kotak penalti langsung diberi penalti. Kuat dugaan ada faktor non-teknis yang memengaruhi jalannya pertandingan ini,” pungkasnya.
Dengan hasil ini, PSP Padang harus segera bangkit dan mengevaluasi performa tim guna mengamankan poin penuh pada laga lanjutan Grup H berikutnya.
(*)





Komentar