Sakato.co.id – Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) menggelar operasi besar-besaran memindahkan 263 narapidana kategori risiko tinggi (high risk) ke Pulau Nusakambangan pada Kamis (23/4/2026) malam. Langkah ini diambil sebagai strategi “bedol desa” untuk memutus rantai risiko keamanan di lapas-lapas asal.
Proses perpindahan yang dimulai pukul 21.50 WIB ini berakhir di Pelabuhan Sodong, Nusakambangan, di bawah pengawalan bersenjata lengkap.
Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, menegaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar pemerataan hunian, melainkan upaya mitigasi gangguan keamanan nasional.
“Pemindahan ini bukan hanya memindahkan orang, tetapi memindahkan risiko. Jika mereka tetap tersebar di lapas asal, potensi gangguan keamanan lebih sulit dikendalikan,” tegas Mashudi, dikutip dari laman kabarimipas.id, Jumat (24/4/2026).
Sebanyak 263 warga binaan ini dikumpulkan dari enam wilayah strategis di Indonesia:
– Riau: 103 orang (Jumlah terbanyak)
– Jakarta: 45 orang
– Sumatera Utara: 44 orang
– Jambi: 42 orang
– Lampung: 18 orang
– Sumatera Selatan: 11 orang
Untuk memastikan operasi berjalan tanpa hambatan, sebanyak 57 personel gabungan dari unsur Brimob, Sabhara, hingga Satuan Operasional Kepatuhan Internal (Patnal) dikerahkan.
Iring-iringan terdiri dari tujuh bus besar dengan pengawalan tertutup dan rahasia. Pemilihan waktu malam hari dilakukan secara sengaja guna meminimalisir perhatian publik sekaligus menjaga kerahasiaan pergerakan di jalan raya.
Langkah tegas ini merupakan respons atas tantangan klasik pemasyarakatan di Indonesia:
– Overkapasitas: Sebagian besar lapas umum di Indonesia sudah melebihi daya tampung.
– Klasifikasi Risiko: Memisahkan napi kasus berat dari napi umum guna mencegah konflik dan penyebaran pengaruh negatif di dalam sel.
– Sistem Super Security: Nusakambangan dipilih karena memiliki fasilitas pengawasan khusus yang tidak dimiliki lapas biasa.
Kini, seluruh narapidana telah diserahterimakan ke Unit Pelaksana Teknis (UPT) di Nusakambangan untuk menjalani pembinaan dengan sistem pengamanan ekstra ketat. Operasi ini memperkuat status Nusakambangan sebagai benteng terakhir bagi narapidana berisiko tinggi di Indonesia.
(*)





Komentar