Sakato.co.id – Ingatan kolektif warga Padang tentang dentum air dan material galodo yang menghantam sepanjang akhir November 2025 hingga awal Januari 2026, mungkin belum sepenuhnya pudar. Namun, di tengah sisa-sisa material alam tersebut, warga justru menemukan cara unik untuk berdamai dengan keadaan.
Kini, aliran Banda Bakali tidak lagi dipandang dengan kecemasan, melainkan berubah menjadi ruang rekreasi massal yang hangat dan penuh tawa.
Sore itu, Rabu (14/1/2026), jarum jam menunjukkan pukul 16.30 WIB. Di kawasan Banda Bakali, Jalan Ujung Tanah, Kecamatan Lubuk Begalung, suasana tampak hidup. Tepat di belakang Kampus UPI Padang, hamparan pasir yang terbawa arus banjir bandang beberapa waktu lalu kini beralih fungsi menjadi area bermain.
Anak-anak berlarian tanpa alas kaki di atas gundukan pasir, membangun istana kecil sebelum akhirnya menceburkan diri ke dalam air yang mengalir tenang. Teriakan riang mereka seolah mengubur kesunyian mencekam yang sempat menyelimuti kawasan ini saat bencana melanda.
Rekreasi Tanpa Biaya Bagi warga setempat, Banda Bakali adalah solusi hiburan di tengah himpitan ekonomi pascabencana. Rani (42), warga sekitar, mengaku lebih memilih membawa buah hatinya ke sini ketimbang ke pusat perbelanjaan atau objek wisata berbayar.
“Kalau sore begini, paling enak bawa anak ke sini. Dekat rumah, udaranya segar, dan yang terpenting gratis. Mereka bisa main air sepuasnya, kita orang tua bisa duduk santai memantau,” ujar Rani sambil tersenyum menatap anaknya yang sedang basah kuyup.
Senada dengan Rani, Randi (29) melihat fenomena ini sebagai bentuk pemulihan psikologis bagi warga. Menurutnya, keramaian ini mulai kembali sejak aliran sungai mulai stabil dan air kembali jernih.
“Lumayan buat melepas penat sehabis kerja. Sekarang sudah ramai lagi seperti dulu, bahkan lebih banyak orang karena areanya sekarang lebih landai dan berpasir,” ungkap Randi.
Fenomena Menjamur di Berbagai Titik Pemandangan serupa ternyata tidak hanya terkonsentrasi di Lubuk Begalung. Bergeser ke arah Jati, Kecamatan Padang Timur, denyut kehidupan di tepian Banda Bakali juga tak kalah semarak. Sepanjang bantaran sungai, keluarga-keluarga kecil berkumpul. Ada yang sekadar merendam kaki sambil bercengkerama, ada pula yang sengaja membawa bekal untuk dinikmati di pinggir sungai.
Apa yang terjadi di Banda Bakali hari ini adalah potret nyata resiliensi atau ketangguhan warga Kota Padang. Di mana ada ancaman alam, di situ pula muncul kemampuan untuk beradaptasi. Dari sisa-sisa galodo yang sempat menyisakan pilu, kini lahir ruang sosial baru yang menyatukan masyarakat dalam kebersamaan yang sederhana namun bermakna.
(*)





Komentar