Sakato.co.id – Suasana khidmat menyelimuti Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Padang pada Kamis (26/2/2026). Di tengah momentum bulan suci, para warga binaan mendapatkan pencerahan spiritual langsung dari seorang ulama asal Arab Saudi, Syekh Abdurrahman, yang hadir dalam rangkaian safari Ramadan di Indonesia.
Kehadiran pensiunan dosen dari Negeri Petro Dollar ini memberikan warna baru dalam proses pembinaan di balik jeruji besi. Didampingi oleh Yayasan Dar el-Iman sebagai penerjemah, Syekh Abdurrahman membagikan pesan-pesan kesejukan yang membangkitkan harapan bagi para narapidana.
Kepala Kanwil Kemenkumham Sumatera Barat, Kunrat Kasmiri, menyambut hangat kunjungan internasional ini. Ia menegaskan bahwa kehadiran tokoh agama sekaliber Syekh Abdurrahman adalah suntikan moral yang luar biasa bagi warga binaan.
“Tausiyah yang disampaikan berdasarkan pengalaman beliau di Arab Saudi sangat menyentuh. Ini bukan sekadar ceramah, tapi jembatan bagi warga binaan untuk memperbaiki diri,” ujar Kunrat.
Lebih dari sekadar kunjungan, Kunrat membeberkan visi besarnya untuk seluruh Lapas dan Rutan di Sumatera Barat. Ia menargetkan transformasi total melalui pembentukan pesantren yang terstruktur di setiap satuan kerja.
“Harapan saya sederhana, yakni masuk napi, keluar santri. Dengan bekal keagamaan yang kuat, warga binaan diharapkan dapat kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik, bermanfaat, dan tidak lagi melanggar hukum,” tegasnya.
Senada dengan Kanwil, Kalapas Kelas IIA Padang, Junaidi Rison, menegaskan bahwa pembinaan keagamaan di instansinya bukanlah kegiatan musiman atau sekadar formalitas Ramadan.
“Kami tidak butuh lagi ‘Pesantren Kilat’, karena di sini pesantren sudah berjalan setiap hari,” tegas Junaidi.
Kegiatan rutin yang dijalani warga binaan meliputi:
– Tahsin & Tahfidz: Belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an.
– Literasi Islam: Pelatihan membaca dan menulis huruf Arab.
– Kaderisasi: Pelatihan menjadi dai (penceramah).
Momentum kehadiran Syekh Abdurrahman ini diharapkan menjadi katalisator bagi warga binaan untuk terus memantapkan langkah menuju pertobatan yang sungguh-sungguh (taubatan nasuha).
“Dengan penguatan sinergi bersama lembaga keagamaan, Lapas Padang optimis dapat mencetak lulusan yang tidak hanya bebas secara hukum, tetapi juga merdeka secara spiritual,” pungkasnya.
(*)





Komentar