Sakato.co.id – Lima tahun telah berlalu sejak badai Covid-19 melumpuhkan sendi-sendi kehidupan di Kota Padang. Namun, di balik angka-angka statistik kematian dan grafik penularan yang dulu menghiasi layar televisi, terselip kisah-kisah heroik yang nyaris terlupakan.
Ini bukan tentang mereka yang berseragam medis, melainkan tentang jemari para ibu rumah tangga yang kasar karena deterjen dan bumbu dapur, yang mendadak menjadi “benteng terakhir” pertahanan sosial Sumatera Barat.
Saat kebijakan pembatasan sosial memaksa pintu-pintu rumah terkunci rapat, sekelompok perempuan di sudut-sudut kota justru membuka pintu hati mereka. Tanpa instruksi resmi, apalagi sorotan kamera, mereka bergerak dalam senyap.
Mereka mulai bergerak, dari membuat dapur umum mandiri dan mengolah bahan seadanya untuk memastikan tetangga yang isolasi mandiri (isoman) tidak kelaparan.
Kemudian menjadi penghubung informasi, mengumpulkan donasi kecil-kecilan, hingga menyediakan dukungan psikologis bagi sesama ibu yang mulai stres menghadapi tekanan ekonomi.
“Kami tidak terpikir soal pahlawan atau apa. Saat itu, pilihannya hanya dua: melihat tetangga mati kelaparan atau kita berbagi apa yang ada,” kenang salah seorang penggerak komunitas lokal.
Namun, narasi kepahlawanan ini menyisakan noktah hitam. Di tengah militansi para perempuan ini, perhatian pemerintah kala itu dirasakan sangat minim. Mereka bergerak dengan modal nekat dan rasa empati, seringkali tanpa alat pelindung diri yang memadai maupun bantuan subsidi yang dijanjikan.
Kontribusi mereka adalah fondasi kekuatan sosial yang menjaga Kota Padang tidak runtuh total selama krisis. Sayangnya, peran krusial ini seringkali dianggap sebagai “kewajiban domestik” belaka, bukan sebuah prestasi strategis yang patut didukung kebijakan formal.
Kini, dalam momentum peringatan Hari Kartini, saatnya menoleh kembali pada dedikasi mereka. Para perempuan ini adalah manifestasi nyata dari semangat perjuangan RA Kartini—bergerak mendobrak keterbatasan untuk kemaslahatan orang banyak.
Pengabdian mereka seharusnya menjadi alarm bagi pemangku kebijakan di Sumatera Barat. Peran perempuan dalam mitigasi bencana dan krisis sosial tidak boleh lagi dipandang sebelah mata atau sekadar menjadi pelengkap dalam pidato seremonial.
Mereka adalah Kartini masa kini. Tanpa kebaya mewah, hanya dengan daster dan masker kain, mereka membuktikan bahwa kekuatan terbesar bangsa ini justru lahir dari ketulusan tangan perempuan di tingkat akar rumput.
(*)





Komentar