Sakato.co.id – Ritme kerja jurnalis televisi identik dengan pacuan waktu. Sejak pagi hingga malam, mereka memburu peristiwa, mengambil gambar, dan menyajikan berita dengan cepat serta akurat kepada publik. Namun, di tengah padatnya mobilitas tersebut, ada cerita menarik dari seorang insan pers di Kota Padang, Sumatera Barat.
Ia adalah Atrawirkariwi Jaya, yang akrab disapa Ara, seorang koresponden stasiun televisi swasta nasional untuk wilayah Sumatera Barat. Di luar tugas jurnalistiknya, Ara memilih menghabiskan waktu luang dengan bercocok tanam, menyulap lahan kosong di pekarangan rumahnya menjadi kebun cabai organik yang produktif.
Bagi wartawan yang telah mengantongi Sertifikat Kompetensi Wartawan (UKJ) Jenjang Utama/Muda dari Dewan Pers ini, berkebun bukan sekadar hobi pengisi waktu senggang. Langkah sederhana ini merupakan bentuk kepedulian nyata terhadap lingkungan sekaligus upaya membangun kemandirian pangan dari lingkup keluarga.
Awalnya, Ara merasa prihatin melihat lahan di sekitar rumahnya dibiarkan terlantar dan tak produktif. Ia kemudian tergerak untuk memanfaatkan ruang tersebut dengan menanam cabai, komoditas pangan harian yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi kebutuhan pokok di hampir setiap dapur rumah tangga.
Dengan memanfaatkan polybag berisi media tanam organik, Ara menata puluhan tanaman cabai secara rapi. Metode ini ia pilih karena ramah lingkungan, praktis, tidak membutuhkan lahan luas, serta mudah dipindahkan.
Setiap hari, sebelum berangkat ke lapangan atau seusai merampungkan laporan berita, Ara menyempatkan diri menyiram tanaman, memeriksa kondisi daun, hingga membersihkan gulma.
“Merawat tanaman hampir sama seperti menjalankan profesi jurnalis. Keduanya membutuhkan konsistensi, ketelitian, dan kesabaran. Hasil yang baik tidak bisa diperoleh secara instan,” ungkap Ara, Sabtu (25/7/2026).
Tentu prosesnya tak selalu mulus. Cuaca ekstrem yang kerap berubah, ancaman hama, hingga keterbatasan waktu di sela tugas liputan menjadi tantangan tersendiri. Namun bagi Ara, tantangan tersebut justru menjadi terapi pelepas penat setelah seharian bekerja di bawah tekanan deadline.
Usaha dan ketekunan itu kini membuahkan hasil. Tanaman cabai yang semula hanya beberapa pot kini tumbuh subur dan mulai dipanen secara berkala. Walau belum diproduksi dalam skala industri, hasil panennya sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian keluarga, bahkan kerap dibagikan kepada tetangga sekitar.
Selain berdampak hemat pada dapur, aktivitas ini turut membuat area pekarangan rumah menjadi lebih asri, sejuk, dan hijau. Pemanfaatan pupuk organik juga meminimalisir ketergantungan pada bahan kimia beracun.
Ara berharap gerakan kecil ini dapat menginspirasi masyarakat luas, khususnya generasi muda, untuk mulai memanfaatkan sudut-sudut lahan kosong di pekarangan rumah masing-masing.
“Kalau setiap rumah memiliki beberapa tanaman cabai, sayur, atau tanaman pangan lainnya, tentu kebutuhan dapur bisa terbantu. Selain menghemat pengeluaran, kita juga ikut menjaga lingkungan agar tetap hijau,” tuturnya.
Kisah Ara menjadi cermin bahwa profesi apa pun dapat mengambil peran dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Dari balik kamera yang saban hari merekam dinamika publik, ia membuktikan bahwa inspirasi dan perubahan besar sering kali berawal dari langkah-langkah kecil di pekarangan rumah sendiri.
(*)








Komentar