Cabai Meroket Akibat Cuaca Ekstrem, Inflasi Sumbar Oktober 2026 Naik ke Angka 3,97 persen

Sakato.co.id – Tekanan inflasi di Sumatera Barat (Sumbar) pada Oktober 2026 terpantau mengalami peningkatan. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan (year-on-year/yoy) Sumbar tercatat di angka 3,97%, naik dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 3,50% (yoy).

Kepala Wilayah Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Barat, Muhammad Abdul Majid Ikram, mengungkapkan bahwa lonjakan inflasi bulanan (month-to-month/mtm) pada periode ini terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencapai 2,38% (mtm) dengan andil 0,80%.

“Peningkatan inflasi bulanan terutama didorong oleh lonjakan harga aneka cabai di seluruh wilayah sampel IHK, yang dipengaruhi oleh tingginya permintaan dari luar daerah di tengah berkurangnya pasokan nasional akibat dampak El Niño serta cuaca yang tidak menentu,” ujar Majid dalam keterangannya, Selasa (3/11/2026).

Dari sisi produksi, curah hujan yang tinggi dan cuaca ekstrem turut mengganggu produktivitas di sejumlah sentra pertanian Sumbar. Kondisi ini menyebabkan penurunan hasil panen, bahkan gagal panen di sebagian lahan petani.

Cabai Merah Jadi Penyumbang Utama

Komoditas cabai merah tercatat menjadi penyumbang inflasi terbesar pada Oktober 2026 dengan inflasi bulanan sebesar 40,06% dan memberikan andil 0,92%. Kenaikan harga ini merata di seluruh kabupaten/kota sampel IHK.

Kota Padang mencatat inflasi cabai merah tertinggi yakni sebesar 44,56%, sementara andil inflasi terbesar dirasakan di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 1,63%. Selain cabai merah, tekanan inflasi juga disumbang oleh kenaikan harga cabai rawit, cabai hijau, ikan cakalang/sisik, serta komponen biaya pendidikan tinggi.

Kendati demikian, laju inflasi yang lebih tinggi berhasil tertahan oleh penurunan harga pada sejumlah komoditas pangan lainnya serta normalisasi tarif transportasi. Komoditas penahan inflasi bulanan di antaranya adalah daging ayam ras, bawang merah, angkutan udara, ikan serai, dan kentang, yang mencerminkan membaiknya pasokan di pasaran.

Potret Spasial: Seluruh Daerah Mengalami Inflasi

Secara spasial, seluruh kabupaten/kota sampel IHK di Sumatera Barat mengalami inflasi pada bulan Oktober 2026.

Inflasi Bulanan Tertinggi: Kabupaten Pasaman Barat (1,42%), diikuti Kota Padang (0,78%), Kabupaten Dharmasraya (0,59%), dan Kota Bukittinggi (0,55%).

Inflasi Tahunan Tertinggi: Kabupaten Dharmasraya (5,25%), Kabupaten Pasaman Barat (4,61%), Kota Bukittinggi (3,83%), dan Kota Padang (3,60%).

Secara kumulatif (year-to-date/ytd), inflasi Januari–Oktober 2026 tercatat sebesar 2,70% dan dinilai masih berada pada level yang relatif terjaga.

Langkah Strategis dan Prospek ke Depan

Untuk meredam laju kenaikan harga hortikultura ini, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi dan Kabupaten/Kota bersama Bank Indonesia terus memperkuat sinergi stabilisasi harga. Langkah taktis yang digencarkan meliputi pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM), operasi pasar, optimalisasi Kerja Sama Antar Daerah (KAD), serta fasilitasi business matching antara kelompok tani, off-taker, dan mitra logistik.

Menatap periode akhir tahun, BI memproyeksikan tekanan inflasi mulai mereda pada November 2026 seiring masuknya masa panen raya di sejumlah daerah sentra seperti Solok, Tanah Datar, Dharmasraya, dan Pasaman Barat, serta dukungan pasokan dari luar daerah termasuk Sumatera Utara.

“Hingga akhir tahun 2026, inflasi Sumatera Barat diperkirakan tetap terjaga dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5%±1%, didukung oleh perbaikan pasokan pangan dan komitmen kuat sinergi TPID,” pungkas Majid.

(*)

Komentar