Sakato.co.id – Laju inflasi tahunan di Sumatera Barat (Sumbar) terus menunjukkan tren penurunan hingga Agustus 2026. Keberhasilan menjaga produktivitas komoditas pangan lokal, khususnya bawang merah dan cabai merah, menjadi salah satu penopang utama melandainya tekanan harga di Ranah Minang.
Berdasarkan data rilis Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Sumbar pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,76% (year-on-year/yoy). Angka ini terus melandai jika dibandingkan dengan periode Juli 2026 yang sebesar 4,12% (yoy) dan Juni 2026 sebesar 4,70% (yoy). Secara kumulatif, inflasi Sumbar hingga Agustus 2026 terjaga di level 1,23% (year-to-date/ytd).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat, Mohamad Abdul Majid Ikram, mengungkapkan bahwa peningkatan produksi bawang merah sepanjang tahun 2026 memberi dampak signifikan terhadap penurunan inflasi tahunan, dengan andil deflasi mencapai -0,40% (yoy).
“Melimpahnya pasokan hortikultura seiring berlanjutnya musim panen di sentra produksi Sumbar, khususnya wilayah Solok, menjadi pendorong utama deflasi pada komoditas bawang merah dan cabai merah,” ujar Abdul Majid Ikram, dalam keterangan resminya yang diterima, Kamis (3/9/2026).
“Selain bawang dan cabai, penurunan harga komoditas lain seperti telur ayam ras, jengkol, buncis, dan petai turut membantu menekan angka inflasi tahunan,” imbuhnya.
Meski inflasi tahunan melandai, inflasi bulanan Sumbar pada Agustus 2026 mencatatkan sedikit kenaikan sebesar 0,18% (month-to-month/mtm), naik tipis dibanding Juli 2026 yang sebesar 0,07% (mtm).
Peningkatan inflasi bulanan ini terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 0,33% (mtm), serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,94% (mtm). Daging ayam ras menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan andil 0,23% (mtm).
“Kenaikan harga daging ayam ras dipicu oleh tingginya permintaan pada momentum peringatan Maulid Nabi dan rangkaian HUT RI, khususnya di Kabupaten Dharmasraya, yang bertepatan dengan naiknya harga pakan ternak,” jelas Abdul Majid. Komoditas lain yang turut memberi andil inflasi bulanan adalah cabai rawit (0,05%), emas perhiasan (0,05%), ikan tongkol (0,03%), dan beras (0,02%).
Sebaliknya, potensi lonjakan inflasi yang lebih tinggi berhasil tertahan oleh penurunan harga tiket pesawat. Tarif angkutan udara mencatatkan deflasi menyusul kebijakan penurunan fuel surcharge hingga 30%, dikombinasikan dengan turunnya harga avtur dan normalisasi permintaan pascalibur sekolah.
Secara spasial, seluruh kabupaten/kota IHK di Sumbar mengalami inflasi bulanan pada Agustus 2026. Laju inflasi bulanan tertinggi terjadi di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 0,46% (mtm), disusul Kota Bukittinggi (0,20% mtm), Kabupaten Dharmasraya (0,11% mtm), dan Kota Padang (0,10% mtm).
Sementara secara tahunan, Kabupaten Dharmasraya mencatatkan inflasi tertinggi sebesar 4,34% (yoy), diikuti Kabupaten Pasaman Barat (4,11% yoy), Kota Bukittinggi (3,78% yoy), dan Kota Padang (3,55% yoy). Secara kumulatif tahun berjalan, Dharmasraya juga menjadi daerah dengan inflasi tertinggi sebesar 2,71% (ytd).
Langkah Strategis BI dan TPID Jaga Stabilitas Harga
Tercatatnya inflasi kumulatif yang relatif terkendali hingga Agustus 2026 menunjukkan efektivitas berbagai program yang dirancang oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumbar bersama Bank Indonesia. Salah satunya melalui pelaksanaan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) yang rutin menggelar operasi pasar, Gerakan Pangan Murah (GPM), serta optimalisasi Kerja Sama Antar Daerah (KAD).
Ke depan, Bank Indonesia dan TPID Sumbar telah menyiapkan empat langkah strategis untuk memastikan inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran target nasional 2,5±1%:
1. Percepatan Pemulihan Infrastruktur: Mempercepat perbaikan sarana dan prasarana pendukung distribusi pascabencana.
2. Intensifikasi Operasi Pasar: Menggencarkan Gerakan Pangan Murah (GPM) demi menjamin keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat.
3. Optimalisasi Neraca Pangan: Memperkuat Kerja Sama Antar Daerah (KAD) berbasis neraca pangan intra-provinsi untuk menstabilkan pasokan.
4. Pemberdayaan Petani: Menguatkan ketahanan pasokan hortikultura lewat program urban farming dan pembinaan kelompok tani champion cabai dan bawang.
“Sinergi pengendalian inflasi akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat yang berkelanjutan,” tutup Abdul Majid.
(*)









Komentar