Sakato.co.id – Produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) asal Sumatera Barat (Sumbar) kini tidak hanya dipacu unjuk gigi di pasar lokal, melainkan didorong untuk menembus pasar internasional. Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumbar mulai mengarahkan para pelaku usaha daerah untuk naik kelas dan memperluas jangkauan pasar hingga ke mancanegara.
Negara-negara seperti Jepang, Prancis, hingga Amerika Serikat menjadi sasaran utama untuk pemasaran berbagai produk unggulan Ranah Minang.
Kepala Perwakilan BI Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram, mengungkapkan bahwa Sumbar memiliki potensi ekonomi yang sangat besar dalam pengembangan UMKM. Hal ini didukung oleh beragam produk unggulan berbasis budaya, kreativitas, dan kekayaan alam daerah.
Mulai dari wastra tradisional, songket, sulaman, kriya, fesyen, kuliner khas, kopi, hingga pelbagai produk ekonomi kreatif lainnya dinilai memiliki daya saing kuat untuk menembus pasar global.
Mengusung semangat “Dari Nagari untuk Negeri”, BI Sumbar terus memperkuat fondasi agar produk-produk lokal tidak hanya berhenti di tingkat nasional.
Menurut Majid, mendampingi UMKM hingga naik kelas memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Pelaku usaha tidak sekadar dituntut meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga harus lihai mengelola bisnis, menjaga konsistensi kualitas, memanfaatkan teknologi digital, mengakses pembiayaan, serta memahami standar pasar luar negeri.
“Produk unggulan Sumatera Barat perlu terus ditransformasikan menjadi nilai tambah ekonomi, perluasan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tegas Majid, pada perhelatan SCF 2026 di Hotel Pangeran Beach Padang, Jumat (28/8/2026).
Ia membeberkan, potensi ekonomi Sumbar ditopang oleh keberadaan lebih dari 662 ribu unit UMKM. Namun, kuantitas yang besar ini harus diimbangi dengan peningkatan kualitas agar makin banyak pelaku usaha yang mampu bertransformasi dari skala kecil menjadi usaha yang kokoh dan berdaya saing global.
Oleh karena itu, BI Sumbar gencar mendorong strategi Go Digital dan Go Export. Pemanfaatan teknologi digital menjadi pintu masuk strategis bagi UMKM untuk memperluas jangkauan pemasaran, meningkatkan efisiensi operasional, merapikan pencatatan keuangan, hingga mempermudah akses pembiayaan perbankan.
Tren digitalisasi di Sumbar sendiri mencatatkan pertumbuhan yang sangat positif. Hingga triwulan II-2026, jumlah pengguna QRIS di Sumbar telah menembus 1,08 juta jiwa dengan didukung sekitar 754 ribu merchant. Bahkan, volume transaksi QRIS mengalami lonjakan signifikan sebesar 158 persen secara tahunan (year-on-year).
Kendati demikian, Majid mengingatkan bahwa digitalisasi harus dibarengi dengan kesiapan produk. Untuk menembus pasar global, produk UMKM wajib memenuhi standar kualitas internasional, memiliki kemasan (packaging) yang menarik, serta mampu menjaga kestabilan pasokan dan ketepatan waktu pengiriman.
Sebagai langkah konkret mempertemukan pelaku usaha dengan pasar yang lebih luas, BI Sumbar menggelar Sumatera Barat Creative Economy Festival (SCF) 2026 pada 28–30 Agustus 2026.
Ajang yang melibatkan lebih dari 60 UMKM unggulan ini tidak hanya menjadi wadah promosi produk lokal, tetapi juga menjembatani para pelaku usaha dengan calon pembeli (buyers), lembaga perbankan, investor, serta jejaring bisnis internasional guna membuka peluang kerja sama dan akses pembiayaan jangka panjang.
(*)









Komentar