Sakato.co.id – Sebulan telah berlalu sejak banjir bandang dan longsor menerjang Kota Padang, namun luka yang ditinggalkan belum juga mengering. Di balik puing infrastruktur yang rusak, sebuah ancaman senyap kini menghantui ribuan petani dengan krisis air di tengah lahan yang kian meranggas.
Bagi Medrizal, seorang petani lokal, sawah seluas satu hektare miliknya kini bukan lagi hamparan hijau yang menjanjikan, melainkan tanah yang haus. Saluran irigasi yang menjadi urat nadi pertaniannya hancur diterjang banjir sebulan silam, meninggalkan lahan keluarganya tanpa pasokan air yang memadai.
“Kondisi sawah saat ini sangat bergantung pada irigasi. Karena saluran rusak, air hampir tidak mengalir. Jika tidak segera diperbaiki, kami terancam tidak bisa mengolah lahan,” keluh Medrizal dengan nada getir, dalam keterangannya, Jumat (16/1/2026).
Kisah Medrizal hanyalah satu dari ribuan potret serupa di Kota Padang. Kerusakan infrastruktur irigasi telah menciptakan efek domino yang mengkhawatirkan bagi ketahanan pangan daerah.
Data sementara menunjukkan, sekitar 1.200 hektare sawah terdampak bencana, dengan sekitar 800 hektare di antaranya mengalami gangguan serius akibat kerusakan irigasi. Bahkan, dari total 4.358 hektare lahan sawah di Kota Padang, sekitar 2.900 hektare kini terancam mengalami kekeringan.
Jika perbaikan tidak segera dilakukan, risiko puso atau gagal panen massal bukan lagi sekadar kekhawatiran, melainkan kepastian yang akan memukul pendapatan petani dan pasokan pangan di Kota Padang.
Kini, para petani hanya bisa menanti kepastian. Harapan besar digantungkan kepada Pemerintah Kota Padang untuk segera memulihkan jaringan irigasi yang rusak. Langkah cepat sangat dibutuhkan agar air kembali mengalir dan denyut nadi pertanian di Kota Padang tidak terhenti sepenuhnya.
Tanpa intervensi segera, musim tanam kali ini mungkin hanya akan menyisakan tanah retak dan lumbung yang kosong.
(*)




Komentar