Perkuat Penanganan TBC, Konsorsium Penabulu-STPI dan Dinkes Padang Gelar Pelatihan CHW

Sakato.co.id – Konsorsium Penabulu-STPI bersama Dinas Kesehatan Kota Padang dan Kementerian Kesehatan meningkatkan kapasitas kader kesehatan serta koordinator komunitas melalui pelatihan Community Health Worker (CHW) tahun 2026.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat keterlibatan masyarakat dalam percepatan penemuan kasus tuberkulosis (TBC), pendampingan pasien, hingga pemantauan kepatuhan pengobatan di tengah masyarakat.

Program Manager PR Konsorsium Penabulu-STPI, Erman Varella, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menyasar kader, tetapi juga melibatkan lintas sektor, pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, puskesmas, serta koordinator komunitas.

Menurut Erman, program tersebut merupakan upaya mengembangkan model pelibatan masyarakat dalam penanggulangan TBC yang selama ini banyak mengandalkan kerja sukarela.

“Ini sesuatu yang baru di Indonesia terkait bagaimana pelibatan masyarakat dalam membantu pemerintah dalam penanggulangan tuberkulosis. Selama ini basisnya sukarela, tetapi sekarang dicoba dikembangkan dengan mekanisme remunerasi berdasarkan kegiatan yang dilakukan,” katanya.

Kota Padang menjadi salah satu daerah yang dipilih sebagai lokasi utama pilot project tersebut. Program akan dilaksanakan selama tiga bulan, mulai September hingga November 2026, kemudian dilanjutkan dengan evaluasi pada Desember.

Erman mengatakan terdapat sejumlah daerah lain yang juga menjadi lokasi uji coba, mulai dari Sumatera Barat dan Jambi, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat hingga Kalimantan Barat.

“Dari pelaksanaan pilot project selama tiga bulan ini, kami berharap ada rekomendasi akhir kepada pemerintah mengenai mekanisme pelibatan komunitas yang lebih efisien dan efektif, terutama dalam integrasi dengan layanan primer yang selama ini berjalan,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, kader akan diarahkan untuk melakukan skrining terhadap kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar TBC.

Sasaran tersebut antara lain masyarakat yang tinggal di kawasan padat dan kumuh, pasien diabetes, orang yang memiliki kontak dengan pasien TBC, lanjut usia, serta anak-anak berusia di bawah lima tahun.

“Selain skrining, kader juga akan melakukan investigasi kontak terhadap pasien yang telah teridentifikasi sebagai kasus TBC,” kata dia.

(*)

Komentar