Sakato.co.id – Penanganan darurat pasca-gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Selasa (16/6/2026) terus digencarkan. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah resmi menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana selama tujuh hari, terhitung sejak 17 hingga 23 Juni 2026.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D, mengungkapkan bahwa hingga Rabu (17/6/2026) malam, sedikitnya 2.012 kepala keluarga atau 6.458 jiwa tercatat terdampak di lima wilayah, yakni Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala, Poso, dan Parigi Moutong.
“Kabupaten Sigi menjadi wilayah terdampak paling parah dengan total 6.418 jiwa terdampak, disusul Parigi Moutong dengan 40 jiwa. Data di wilayah lain masih terus diperbarui seiring asesmen lapangan,” ujar Abdul Muhari dalam keterangan resminya.
BNPB mengonfirmasi satu orang warga di Kabupaten Sigi meninggal dunia akibat peristiwa ini. Selain itu, terdapat 15 korban luka berat dan 64 korban luka ringan yang mayoritas berada di Kabupaten Sigi, disusul Kota Palu dan Kabupaten Poso.
Bukan hanya korban jiwa, guncangan keras gempa juga merusak sektor permukiman warga dan fasilitas umum (fasum). Berdasarkan data sementara, kerusakan infrastruktur meliputi:
– Rumah Warga: 1.456 unit rusak ringan, 112 unit rusak sedang, dan 47 unit rusak berat (seluruh kerusakan berat berada di Sigi).
– Fasilitas Publik di Sigi: 34 fasilitas ibadah, 10 fasilitas pendidikan, 8 gedung perkantoran, dan 1 jembatan.
– Dampak di Kota Palu: 1 fasilitas ibadah, 3 gedung kantor, 1 jembatan retak, 4 hotel, dan 1 villa.
– Akses Transportasi: Jalan provinsi yang menghubungkan Palu–Sigi–Poso dilaporkan amblas pada sejumlah titik.
Abdul Muhari memaparkan, tim gabungan di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala berat. Di Kabupaten Poso, akses menuju Kecamatan Lore Utara hingga kini belum dapat dijangkau.
“Akses ke Lore Utara terhambat akibat terputusnya jaringan komunikasi, keterbatasan personel, serta sarana transportasi. Hal ini membuat pendataan dampak di wilayah tersebut belum optimal,” jelasnya.
Sementara itu di Kota Palu, Jembatan Palu III terpaksa ditutup sementara oleh petugas karena ditemukan keretakan pada struktur utama jembatan. Pengkajian teknis lanjutan sedang dilakukan guna memastikan keamanan sebelum kembali dibuka untuk lalu lintas publik.
Untuk mengantisipasi gempa susulan, pihak rumah sakit di Kota Palu sempat mengevakuasi pasien ke tenda darurat, meski kini beberapa pasien mulai dipindahkan kembali ke ruang perawatan secara bertahap.
Hingga Rabu siang, BMKG mencatat telah terjadi 13 kali gempa susulan dengan kekuatan berkisar antara M4,0 hingga M4,2. Saat ini, kebutuhan mendesak yang sangat diperlukan warga di pengungsian dan posko darurat meliputi logistik penanggulangan bencana, tenda darurat tambahan, serta kain terpal untuk menutup bangunan yang rusak.
BNPB mengimbau masyarakat Sulawesi Tengah untuk tetap tenang namun waspada terhadap potensi gempa susulan.
“Pastikan hanya mengikuti informasi resmi dari BMKG, BNPB, dan BPBD setempat. Hindari bangunan yang mengalami keretakan hingga dinyatakan benar-benar aman oleh petugas berwenang,” pungkas Abdul Muhari.
(*)









Komentar