Sakato.co.id – Menteri Sosial Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul menegaskan bahwa wali asuh dan wali asrama merupakan ujung tombak dalam membentuk karakter para siswa Sekolah Rakyat. Pendampingan terhadap anak didik dinilai tidak bisa hanya mengandalkan aturan formal, tetapi wajib mengedepankan empati, perhatian, serta kasih sayang.
Pernyataan tersebut disampaikan Gus Ipul saat memberikan motivasi kepada peserta Pelatihan Pengasuhan bagi Wali Asuh dan Pengelolaan Asrama Sekolah Rakyat, Batch II 2026, di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Padang, Rabu (7/10/2026). Kegiatan yang berlangsung pada 4–8 Oktober 2026 ini diikuti lebih dari 200 peserta.
“Saya titip mereka, antarkan mereka, bangun karakter mereka. Potensi anak-anak ini sama dengan anak-anak lainnya, hanya latar belakangnya saja yang berbeda,” ujar Gus Ipul.
Menurutnya, siswa Sekolah Rakyat datang dari latar belakang sosial dan ekonomi yang beragam. Sebab itu, pendamping perlu memahami kondisi tiap anak secara individu agar pola pengasuhan tidak sekadar menuntut kedisiplinan kaku.
“Kalau menggunakan logika formal, kebutuhan mereka akan terasa berat. Tetapi kalau kita menggunakan hati, kita bisa memahami bahwa mereka membutuhkan perhatian dan tempat untuk berbagi,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Mensos menegaskan tiga hal mendasar yang diharamkan berada di lingkungan Sekolah Rakyat, seperti Perundungan (bullying), Kekerasan dan Intoleransi.
Gus Ipul memastikan sanksi tegas berupa pemberhentian akan dijatuhkan bagi wali asuh atau wali asrama yang terbukti melanggar ketentuan tersebut. Lingkungan sekolah dan asrama wajib menjadi ruang aman bagi seluruh siswa.
“Pendidikan di Sekolah Rakyat dirancang tak hanya mengejar prestasi akademik, melainkan juga memupuk kemandirian dan daya saing anak-anak dari keluarga miskin agar siap menghadapi masa depan,” tegas Gus Ipul.
Ia berharap wali asuh dan wali asrama yang mengikuti pelatihan dapat menerapkan pengetahuan serta pengalaman yang diperoleh dalam menjalankan tugas di Sekolah Rakyat.
“Potensi mereka sama dengan anak-anak yang lain, cuma latar belakangnya yang berbeda. Tugas kalian menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang besar,” kata dia.
Seperti diketahui, Kota Padang saat ini mengoperasikan dua titik Sekolah Rakyat, yakni di BBPPKS Padang dan gedung Universitas Negeri Padang (UNP) sebagai lokasi sementara. Sementara gedung permanen di Sumatra Barat berada di Kabupaten Dharmasraya.
Secara nasional, program Sekolah Rakyat telah menjangkau sekitar 44 ribu siswa yang tersebar di 182 titik, baik menggunakan fasilitas permanen maupun sementara.
(*)








Komentar