Komunikasi Opini Publik

Penulis : Dr. Elva Ronaning Roem, S.Sos, M.Si (Dosen Ilmu Komunikasi Unand)

Sakato.co.id-Komunikasi memainkan peran yang sangat penting dalam mempengaruhi opini publik. Opini publik merujuk pada pandangan, persepsi, dan sikap yang dimiliki oleh sekelompok orang tentang isu-isu atau topik tertentu. Komunikasi memiliki kekuatan untuk membentuk, mengubah, atau memperkuat opini publik melalui berbagai cara. Pertama; informasi dan pengetahuan.

Komunikasi yang efektif dapat menyampaikan informasi dan pengetahuan yang diperlukan untuk membentuk opini publik. Ketika orang-orang memiliki akses ke informasi yang komprehensif dan akurat tentang suatu topik, mereka cenderung membentuk opini yang lebih rasional dan terinformasi.

Kedua, pengaruh media massa. Televisi, radio, surat kabar, dan media sosial, memiliki kemampuan untuk mencapai khalayak yang luas. Isu-isu dan narasi yang disajikan oleh media massa dapat secara signifikan memengaruhi pandangan masyarakat. Berbagai pihak bisa memanfaatkan media untuk menyajikan sudut pandang tertentu, mempengaruhi persepsi publik.

Ketiga; kredibilitas sumber. Opini publik cenderung dipengaruhi oleh sumber yang dianggap kredibel dan terpercaya. Komunikasi yang datang dari tokoh-tokoh otoritatif, pakar di bidang tertentu, atau lembaga-lembaga terkenal dapat memengaruhi cara masyarakat memandang suatu isu.

Keempat; pemberitaan dan framing. Cara suatu isu disajikan atau di-frame dalam berita juga dapat mempengaruhi cara masyarakat mengerti dan meresponsnya. Pemilihan kata, penekanan pada aspek tertentu, atau konteks yang disediakan dalam pemberitaan bisa mengarahkan pandangan publik dalam suatu arah tertentu.

Kelima; pengulangan pesan. Konsep psikologi yang dikenal sebagai “efek pengulangan” menyatakan bahwa makin sering seseorang terpapar pada suatu pesan, makin cenderung mereka mempercayai atau menerimanya. Komunikasi yang konsisten dan diulang-ulang dapat membentuk persepsi publik seiring waktu.

Keenam, konteks sosial dan budaya. Komunikasi juga sangat terkait dengan konteks sosial dan budaya masyarakat. Nilai-nilai, norma, dan tata cara komunikasi dalam suatu budaya bisa membentuk cara orang membentuk opini dan merespons informasi.

Ketujuh, kampanye pemasaran dan advokasi. Organisasi, perusahaan, atau individu sering menggunakan kampanye pemasaran dan advokasi untuk mempengaruhi opini publik tentang produk, layanan, atau isu tertentu.

Strategi ini melibatkan penggunaan pesan persuasif untuk memengaruhi pandangan dan perilaku masyarakat. Dengan menggabungkan semua faktor ini, komunikasi memiliki dampak yang kuat dalam membentuk opini publik. Oleh karena itu, media, organisasi, dan individu memiliki tanggung jawab untuk berkomunikasi secara etis dan akurat guna memastikan bahwa opini publik dibentuk berdasarkan informasi yang tepat dan lengkap.

Intinya, melalui platform medsos, saat ini orang-orang dapat berbagi pandangan mereka tentang berbagai topik, serta memberikan tanggapan dan komentar terhadap isu-isu yang sedang viral. Media sosial juga menjadi tempat di mana pengguna dapat menyampaikan aspirasi, memobilisasi gerakan sosial, dan mengkampanyekan perubahan.

Namun, penting untuk diingat bahwa media sosial juga memiliki tantangan dan dampak negatif. Misalnya, penyebaran berita palsu, privasi yang rentan, intimidasi online, dan ketergantungan. Oleh karena itu, masyarakat harus cerdas menyikapi berita hoaks, dengan cara harus cerdas dalam melakukan verifikasi sumber informasi.

Sebelum kita menerima atau menyebarkan berita, pastikan untuk memeriksa sumbernya. Pastikan bahwa sumber berita tersebut terpercaya dan memiliki reputasi yang baik. Jika berita hanya berasal dari sumber yang tidak dikenal atau tidak jelas, maka ada kemungkinan besar itu adalah hoaks.

Lanjutnya, cerdas untuk memeriksa fakta. Lakukan riset lebih lanjut untuk memverifikasi fakta dalam berita tersebut. Cari tahu apakah informasi yang disajikan telah dikonfirmasi oleh sumber-sumber yang lebih terpercaya. situs web atau platform yang mengkhususkan diri dalam memeriksa fakta juga bisa menjadi sumber yang berguna.

Literasi juga dapat dilakukan dengan melihat sumber kredibilitas dari sebuah informasi. Cek apakah berita tersebut juga dilaporkan oleh sumber-sumber berita yang dikenal dan terpercaya. Jika hanya ada satu atau dua sumber yang melaporkan berita tersebut, berhati-hatilah terhadap kebenarannya. Kemudian, periksa tanggal dan konteks. Kadang-kadang berita hoaks bisa “dipanaskan kembali” dari peristiwa masa lalu atau diambil dari konteks aslinya. Periksa tanggal berita dan pastikan kita memahami konteksnya dengan benar.

Terakhir, gunakan akal sehat. Jika berita terdengar terlalu luar biasa, tidak masuk akal, atau terlalu dramatis, pertimbangkan kemungkinan bahwa itu adalah hoaks. Jangan langsung percaya pada berita yang mengundang emosi ekstrem tanpa bukti yang kuat. Jika kita ragu tentang kebenaran berita, konsultasikan dengan ahli atau pakar di bidang yang relevan. Mereka mungkin dapat memberikan wawasan lebih lanjut tentang apakah berita tersebut kredibel atau tidak.

Juga yang lebih penting, jangan terburu-buru membagikan berita hoaks. Kita harus bisa memberikan waktu untuk verifikasi dan penelitian lebih lanjut sebelum membagikan informasi. Coba Analisa juga, mengapa berita tersebut mungkin dibuat. Beberapa berita hoaks diciptakan dengan motif politik, komersial, atau bahkan hanya untuk menciptakan sensasi. Memahami motif di balik berita tersebut bisa membantu kita mengidentifikasi potensi hoaks.

Dalam hal ini, pemerintah juga perlu mengedukasi masyarakat terkait literasi mediasi, yakni dengan memberikan edukasi bagaimana informasi disebarkan di era digital adalah keterampilan yang berharga. Salah satunya, kita harus mengetahui teknik manipulasi, penggunaan gambar, dan cara informasi dapat disebarkan dengan cepat. (*)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *