Sakato.co.id – Kabar baik datang dari kondisi perekonomian Sumatera Barat. Di tengah fluktuasi harga komoditas global, realisasi inflasi tahunan (yoy) Sumatera Barat pada April 2026 tercatat sebesar 1,97%. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan realisasi inflasi nasional yang menyentuh 2,42%.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sumatera Barat, M. Abdul Majid Ikram, mengungkapkan bahwa terkendalinya inflasi ini merupakan hasil dari penurunan tekanan pada kelompok barang bergejolak (volatile food).
“Secara kumulatif dari Januari hingga April 2026, Sumatera Barat bahkan masih mencatat deflasi sebesar -0,43% (ytd). Kami optimis inflasi sepanjang tahun akan tetap terjaga di rentang sasaran 2,5±1%,” ujar Majid dalam keterangan resminya.
Meskipun angka tahunan rendah, secara bulanan (month-to-month), Sumbar mengalami inflasi sebesar 0,39% pada April 2026. Kenaikan ini dipicu oleh beberapa faktor musiman pasca-Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri serta kenaikan harga energi.
Beberapa komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi bulanan antara lain:
– Tarif Angkutan Udara: Melonjak 32,24% (mtm) akibat berakhirnya masa diskon tiket Lebaran dan kenaikan harga avtur.
– Bawang Merah: Naik 10,52% (mtm) karena tingginya permintaan dari dalam dan luar wilayah.
– Minyak Goreng: Naik 4,75% (mtm) sejalan dengan kenaikan harga CPO global.
– Kuliner & Sembako: Kenaikan harga jengkol, kentang, serta nasi dengan lauk akibat transmisi harga traded goods.
Beruntung, tekanan inflasi tidak melambung lebih jauh berkat deflasi pada sejumlah komoditas pangan strategis. Cabai rawit dan cabai merah masing-masing mengalami penurunan harga sebesar -21,13% dan -13,55% berkat melimpahnya produksi lokal dan pasokan dari Sumatera Utara. Selain itu, harga emas perhiasan dan daging ayam ras juga ikut turun, membantu menjaga daya beli masyarakat.
Dharmasraya Tertinggi, Pasaman Barat Terendah
Secara spasial, peta inflasi di Sumatera Barat menunjukkan keberagaman:
– Kabupaten Dharmasraya: Inflasi tertinggi mencapai 0,67% (mtm) atau 3,44% (yoy).
– Kota Padang & Bukittinggi: Kompak berada di angka 0,51% (mtm).
– Kabupaten Pasaman Barat: Mencatat angka terendah dengan deflasi sebesar -0,02% (mtm).
Strategi ‘Jaga Gawang’ Jelang Idul Adha
Menghadapi tantangan ke depan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumbar bersama Bank Indonesia telah menyiapkan delapan langkah strategis, di antaranya:
1. Penguatan koordinasi Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat untuk percepatan rekonstruksi sarana dan prasarana pascabencana guna mendukung kelancaran distribusi.
2. Pelaksanaan Rakortek TPID dan FGD dalam rangka mitigasi risiko cuaca serta menjaga keberlanjutan produksi pertanian.
3. Intensifikasi Operasi Pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM) untuk menjaga keterjangkauan harga pangan strategis.
4. Optimalisasi Kerjasama Antar Daerah (KAD) berbasis neraca pangan guna mendukung manajemen stok yang berkelanjutan dan tangguh terhadap risiko bencana (potensi musim kering akibat El Nino pada triwulan II 2026).
5. Fasilitasi business matching produsen – offtaker disertai penguatan logistik untuk memastikan kelancaran distribusi pangan.
6. Penguatan pemantauan dan langkah pre‑emptive menjelang HBKN Idul Adha, khususnya dalam mengantisipasi dinamika harga daging serta kenaikan harga cabai dan bawang.
7. Pengamanan pasokan pangan strategis melalui koordinasi dengan BULOG guna memastikan kecukupan stok dan distribusi beras serta minyak goreng.
8. Penguatan ketahanan pasokan hortikultura melalui pengembangan urban farming serta penguatan peran kelompok tani cabai dan bawang sebagai champion penjaga stok saat defisit pasokan.
“Kami akan terus memperkuat sinergi untuk memastikan pasokan pangan tetap aman. Meskipun ada risiko dari depresiasi rupiah dan disrupsi rantai pasok global, fokus kami adalah menjaga daya beli masyarakat Sumbar tetap stabil sepanjang 2026,” tutup Majid.
(*)



Komentar