Hari Kedua, Warga Air Bangis Kembali Geruduk Kantor Gubernur Sumbar

Sakato.co.id – Ribuan warga Air Bangis, Pasaman Barat kembali melakukan aksi demo ke kantor gubernur Sumbar, Selasa (1/8/2023).

Sebelumnya, pada Senin (31/7/2023) kemarin mereka juga melakukan aksi serupa, namun belum berhasul menemui Gubernur Mahyeldi.

Warga Air Bangis tersebut memilih tidak pulang dan menginap di Masjid Raya Sumbar untuk bisa melanjutkan aksi demo hari ini.

Sembari berjalan dari Masjid Raya Sumbar Warga Air Bangis tersebut menyuarakan keinginannya.

“Bebaskan keluarga kami, bebaskan lahan kami. Kami datang dari Pasaman Barat, kami ingin bertemu bapak. Bebaskan lahan kami, bebaskan keluarga kami, tarik brimob dari lahan kami,” hal tersebut diulang hingga merka sampai di depan kantor Gubernur Sumbar.

Dari pantauan Sakato.co.id warga yang turut melakukan aksi tidak hanya mahasiswa dan orang dewasa, juga anak-anak.

Dalam gendongan ibu, anak yang masih balita ikut mendengar rintihan orang tua nya yang menyuarakan aspirasi

Terlihat juga puluhan ibu yang tak kuasa menahan air mata. Sembari mendengar seorang mahasiswa yang bercerita bahwa dirinya lahir di Air Bangis dan dibesarkan dari tanah yang kini akan diambil lahannya.

Ia mengatakan jika lahan itu diambil akan ada ribuan pelajar akan putus sekolah, masa depan ribuan warga Air Bangis akan hancur.

 

“Temui kami, kami ingin berbicara pak. Kami ingin menyampaikan duka kami, kami ditakut-takuti brimob, keluarga kami ditangkap, kami ingin merdeka, bebaskan keluarga kami, kami warga Sumbar, pak,” ujarnya

“Di kampung kami ada SD, SMP, Puskesmas, Banyak masyarakat yang hidup, bebaskan keluarga kami. Jangan adu kami sesama masyarakat, jangan takut takuti kami,” ungkap salah satu warga Air Bangis.

Diberitakan sebelumnya warga Air Bangis menuntut dihentikannya Proyek Strategis Nasional untuk PT Abaco Pasifik Indonesia karena lahan yang akan dibangun menurut mereka merupakan wilayah kelola masyarakat.

Telah digunakan turun temurun sebagai pemukiman, perkebunan, sarana prasarana ibadah, pendidikan dan fasilitas umum lainnya, termasuk situs budaya.

Aris Ritonga, Korlap Aksi mengatakan tuntutan mereka simpel yaitu dibebaskan untuk mencari penghidupannya tidak ditangkap-tangkap lagi dan selesaikan konflik lahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *