Deklarasi Kebangsaan, Penguatan Moderisasi Beragama di Pondok Pesantren Wilayah Sumbar

Sakato.co.id – Dengan mengusung tema “Penguatan Moderasi Beragama di Pesantren”, Jaringan Penggerak Moderisasi Beragama (JPMB) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) menggelar Seminar dan Deklarasi Kebangsaan bersama 200 Santriwan dan Santriwati di Pondok Pesantren MTI Batang Kabung Koto Tangah, Kota Padang, Minggu (26/11/2023).

M Hafiz Al Habsy Koordinator JPMB Sumbar mengatakan, di Pesantren MTI ini pihaknya ada dua agenda, yang pertama melaksanakan Deklarasi dulu kemudian dilanjutkan dengan seminar dari sejumlah baru pemateri.

“Moderasi beragama kita tekankan, bahwa bagaimana sikap toleransi kita antara umat beragama yang ada di Indonesia, terutama di Sumatera Barat, yang kita ketahui memiliki falsafah Adat Basandi Syaraknya,” ungkapnya.

Ia jelaskan, di Pesantren inilah JPMB Sumbar menyuarakan bahwa semua santri dan satriwan juga siap memberikan toleransi antar sesama umat beragama.

“Apalagi kita ketahui di masa kampanye dan pemilu 2024 mendatang, akan rentan terhadap isu-isu agama yang akan dikembangkan kepada hal-hal yang negatif,” sebutnya.

“Jadi apa yang kita lakukan hari ini tentu akan menjadi kesan yang amat baik, yang kita sampaikan untuk menghadapi tantangan 2024 yang akan kerap dengan isu-isu populis agama,” imbuhnya.

Selain moderisasi beragama lanjut Hafiz, pada saat deklarasi kebangsaan tersebut salah satunya berkomitmen melawan secara bersama paham-paham ekstrimisme, terorisme dan radikalime.

“Bagaimana kita tetap menciptakan toleransi demi kenyamanan antar umat, dan tidak membawa agama untuk digunakan untuk hal-hal yang negatif,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pada pemateri dalam seminar pihaknya menghadirkan dari Polda Sumbar, Akademisi, Tokoh Agama serta dari Kemenag Sumbar.

Sementara itu salah seorang tokoh Agama Sumbar, Aulya Rivai mengaku, Deklarasi Kebangsaan ini bertujuan untuk menjaga kebersamaan dan persatuan.

“Kebersamaan dan persatuan pada saat ini perlu diingatkan pada generasi penerus bangsa. Hal ini dikarenakan pengaruh lingkungan mendominasi pembentukan akhlak generasi bangsa saat ini,” ungkapnya.

Karena adanya sosial media (sosmed), kata Aulya, menyebabkan terjadinya perubahan akhlak yang begitu cepat pada masyarakat.

“Kita lihat sendiri, dengan sosial media, banyak yang terpengaruh. Dengan adanya kegiatan penguatan moderasi beragama diharapkan dapat memberikan penyadaran kepada masyarakat khususnya siswa pesantren tentang pembentukan jiwa nasionalisme,” kata dia.

Dikesempatan yang sama, Staf Ahli Bidang Pembangunan Erinaldi yang menjadi narasumber dalam kegiatan deklarasi itu mengaku pendirian negara Indonesia dibangun oleh tokoh-tokoh agama.

“Dasar bernegara adalah Pancasila yang di implementasikan dalam UUD 1945. Apalagi negara ini dibangun oleh tokoh-tokoh agama. Dengan moderasi beragama ini diharapkan moderasi beragama sebagai salah satu program nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), dan tetap menjaga Pancasila sebagai ideologi Bangsa Indonesia,” sebutnya.

(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *