Sakato.co.id – Aksi unjuk rasa sekelompok pemuda dari organisasi Barisan Mahasiswa Sumatera Barat Melawan (BMSBM) di depan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Padang, Senin sore (19/10/2026), mendadak riuh dan diwarnai ketegangan. Bukan dengan aparat keamanan, para pendemo justru berhadapan langsung dengan kekesalan emak-emak warga setempat.
Aksi unjuk rasa yang semula berjalan biasa itu mendadak memancing amarah warga setelah massa aksi membakar ban bekas di depan kompleks Rutan. Kepulan asap hitam pekat dan bau menyengat dari ban terbakar langsung membubung tinggi, memperparah kondisi udara Kota Padang yang saat ini sedang dilanda bencana kabut asap.
Tak terima wilayahnya makin tercemar, emak-emak warga sekitar mendatangi lokasi demo. Dengan spontanitas dan nada tinggi, mereka meluapkan kekesalannya sambil berteriak memprotes aksi pembakaran ban tersebut. Tak sekadar mengomeli pendemo, emak-emak tersebut bahkan turun tangan memadamkan api yang masih berkobar.
Salah seorang warga Hendra, menegaskan bahwa warga sebenarnya tidak melarang siapa pun untuk menyampaikan aspirasi di muka umum. Namun, tindakan membakar ban di tengah situasi bencana kabut asap dinilai sangat tidak bijak dan merugikan kesehatan warga sekitar.
“Kami tidak mempermasalahkan bentuk aksi yang mereka lakukan. Tapi pembakaran ban ini memperburuk kondisi udara. Asap pekat dan baunya menyengat sekali, sangat mengganggu warga. Aksi emak-emak tadi murni bentuk emosi spontan melihat kondisi lingkungan yang makin parah,” ujar Hendra saat dikonfirmasi.
Aksi berani emak-emak tersebut sempat diabadikan dalam rekaman video dan mendadak tular (viral) di media sosial. Dalam video yang beredar luas, terlihat emak-emak meluapkan kekesalannya kepada para orator dan peserta demo sebelum akhirnya berhasil memadamkan kobaran api ban tersebut.
(*)



Komentar