Anggota DPD-RI Muslim M. Yatim Akan Perjuangkan Pariwisata Sumbar di Pusat

Sakato.co.id – Anggota DPD-RI asal Sumatera Barat (Sumbar) Muslim M. Yatim akan bertekad memperjuangkan pariwisata Sumbar untuk mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat.

Hal tersebut diungkapkannya saat kegiatan kunjungan kerja Komite III DPD-RI ke Dinas Pariwisata Sumbar, Selasa (9/1/2023).

“Kita tidak dapat pungkiri lagi, bahwa potensi pariwisata dan ekonomi kreatif di Sumbar ini sangat luar biasa. Namun, pariwisata di daerah ini perlu didorong untuk dijadikan prioritas oleh pemerintah pusat,” ungkapnya.

Muslim M. Yatim dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua Komite III DPD-RI memiliki kedekatan dengan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno. Selain menjadi mitra Komite III DPD-RI, kedekatan Muslim M. Yatim ini dalam upaya memajukan pariwisata dan ekonomi kreatif Sumbar.

“Pariwisata dan ekonomi kreatif sangat penting dalam mendorong UMKM. Tahun lalu, UMKM memberi kontribusi ekonomi yang luar biasa bagi perekonomian nasional,” sebutnya.

“Apalagi di bawah Menteri Sandiaga Uno, pariwisata kita luar biasa. Kita ingin mendorong agar pariwisata dan ekonomi kreatif Sumbar menjadi prioritas di tingkat nasional,” imbuhnya.

Lebih lanjut ia mengatakan Sumatera Barat boleh dikatakan punya segalanya di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif. Namun sayang, pariwisata daerah ini belum mendapat perhatian utama dari pemerintah pusat. Dalam hal ini menurut Muslim M. Yatim memang ada pengaruh politik juga. Tapi, DPD-RI yang tak berhaluan pada kepentingan politik tertentu bisa mendorong perhatian khusus pemerintah pusat terhadap pariwisata dan ekonomi kreatif Sumbar.

Pariwisata Sumbar saat ini masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Ia contohkan masalah infrastruktur transportasi. Objek wisata kelas dunia yang ada di Kepulauan Mentawai saat ini masih terkendala dengan transportasi.

“Kita merasakan sendiri, kendati sudah memakai kapal cepat, tapi tetap saja membutuhkan waktu lama ke Mentawai. Infrastruktur penerbangan di kabupaten kepulauan itu juga tidak memadai. Kendala ini sangatlah memiriskan. Pasalnya, potensi wisata Mentawai, terutama surfing sangat berkelas dan sudah mendunia,” ungkapnya.

Tidak hanya transportasi ke Mentawai ungkapnya, infrastruktur transportasi ke destinasi-destinasi wisata di Sumbar juga banyak masalahnya.

“Seperti kita lihat, betapa sulitnya mencapai objek wisata di Sumbar lewat jalur darat. Pasalnya, begitu banyak titik kemacetan. Belum lagi, sarana penerbangan ke Sumbar, terutama dari Jakarta,” bebernya.

“Kalau musim libur, lebih murah terbang ke Kuala Lumpur daripada dari Jakarta. Ini kan tidak mendukung pariwisata kita,” sambungnya.

Oleh sebab itu, terkait hal ini ia bertekad untuk memfasilitasi ke pemerintah pusat, melalui kementerian terkait untuk menyelesaikan tantangan pariwisata dan ekonomi kreatif Sumbar.

“Kalau program pemerintah pusat dititip ke DPD-RI, InsyaAllah semuanya sampai ke Sumbar,” kata dia.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, Luhur Budianda menyebutkan, pariwisata Sumbar saat ini tetap menjanjikan. Pasalnya, Sumbar sudah sejak dulu menjadi tujuan pariwisata. Tapi memang, ada tantangan pariwisata daerah ini.

“Akhir tahun kemarin, kita menargetkan satu juta kunjungan wisatawan ke Sumbar. Tapi, di akhir tahun terjadi bencana banjir dan longsor, akibatnya banyak wisatawan yang membatalkan kunjungannya ke Sumbar,” ujar Luhur Budianda.

Tantangan lain seperti juga mahalnya biaya penerbangan ke Sumbar. Pemerintah Provinsi Sumbar melalui Dinas Pariwisata menurut Luhur Budianda terus berupaya mengatasi persoalan ini.

“Kira berharap DPD-RI membantu menfasilitasi ke pemerintah pusat untuk mendukung pariwisata Sumbar,” ujarnya.

Kemudian kata Luhur Budianda, program-program nasional, seperti dana abadi agar bisa diarahkan untuk membangun pariwisata Sumbar. Demikianpun, dukungan terhadap program yang digagas Sumbar sendiri.

“Saat ini, kita di Dinas Pariwisata sedang memperjuangkan agar Kepulauan Mentawai menjadi geopark laut dunia. Semoga Mentawai bisa menjadi geopark laut dunia oleh UNESCO,” pungkasnya.

(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *