Sakato.co.id – Jumlah siswa yang diduga mengalami keracunan massal usai mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, terus melonjak. Data terbaru Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Agam mencatat total korban telah mencapai 237 orang hingga Rabu (2/9/2026) siang.
Para korban berasal dari sekitar 20 sekolah tingkat TK, SD, hingga SMP yang menerima pasokan makanan dari satu Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sama di wilayah Palupuh.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Agam, Hendri Rusdian, mengonfirmasi peningkatan jumlah korban tersebut. Mayoritas siswa menjalani perawatan di Puskesmas Palupuh dan beberapa Puskesmas Pembantu (Pustu) terdekat, sementara dua siswa lainnya harus dirujuk ke rumah sakit di Bukittinggi akibat kondisi yang membutuhkan penanganan intensif.
“Sampai siang ini, Rabu (2/9/2026) berjumlah 237 orang, dua orang dirujuk ke RS di Bukittinggi. Satu dirujuk ke RSUD Bukittinggi dan satu di RST Bukittinggi,” ungkap Hendri Rusdian.
Berdasarkan dokumentasi yang dibagikan oleh Dinkes Agam, paket menu MBG yang dikonsumsi para siswa terdiri dari nasi bertabur bawang goreng, telur puyuh, tahu goreng, kuah gulai, potongan tomat, timun, daun selada, serta buah semangka.
Hendri menegaskan seluruh pasokan makanan yang didistribusikan ke puluhan sekolah terdampak tersebut berasal dari satu sumber.
“Dari satu dapur SPPG,” ujar Hendri singkat.
Gejala keracunan ini mulanya dilaporkan sejak Selasa (1/9/2026), saat 56 murid SD mengeluhkan sakit perut secara bersamaan. Jumlah tersebut bertambah drastis pada Rabu pagi menjadi 146 siswa, hingga akhirnya menyentuh angka 237 anak pada siang hari.
Peristiwa ini sempat viral di media sosial setelah video yang memperlihatkan kepanikan di Puskesmas Palupuh diunggah oleh akun Facebook Rizki Saputra dengan narasi “Situasi Puskesmas Palupuh, Ada Apa dengan MBG”.
Hingga saat ini, penyebab pasti keracunan massal tersebut masih dalam tahap penyelidikan mendalam. Tim dari Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Agam telah diterjunkan ke lokasi untuk mengambil sampel makanan dan muntahan pasien.
Pemeriksaan laboratorium dilakukan guna memastikan apakah timbulnya gejala sakit perut massal ini disebabkan oleh kontaminasi bakteri, bahan baku makanan, atau proses pengolahan di Dapur SPPG. Hasil dari pengujian sampel tersebut nantinya akan menjadi dasar penanganan hukum maupun evaluasi operasional dapur penyedia MBG di wilayah tersebut.
(*)









Komentar